Taktik-Strategi Teroris Berubah, Kewaspadaan Harus Ditingkatkan

Kamis, 06 Juli 2017, 12:00:00 WIB - Politik

Sejumlah anggota polisi berlatih beladiri di halaman depan Mapolres Blitar Kota, Jawa Timur, Selasa (4/7). Pasca penyerangan teroris terhadap sejumlah anggota polisi yang sedang bertugas, Mabes Polri mulai meningkatkan sistem pengamanan internal atau Buddy System setiap jajarannya hingga tingkat Polsek. (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin mengingatkan, kewaspadaan aparat keamanan harus lebih ditingkatkan melihat situasi saat ini, ada kecenderungan terjadi perubahan taktik dan strategi teroris. Dia melihat, saat ini serangan teroris menjadi tidak terorganisasi dan terstruktur.

Hasanuddin memberikan beberapa contoh serangan teroris seperti bom panci di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur pada 24 Mei 2017, penyerangan Mapolda Sumut pada 25 Juni 2017 yang menewaskan satu anggota polisi, dan teror dengan secarik kertas diterima Satuan Lantas Polres Serang pada 26 Juni 2017.

Kemudian, yang terbaru penusukan dua anggota polisi di Masjid Falatehan, Kebayoran Baru pada 30 Juni 2017. "Maka dapat dicermati bahwa gerakan teroris itu dilakukan atas inisiatif masing-masing individu," kata Hasanuddin dalam keterangan tertulis yang diterima gresnews.com, Kamis (6/7).

Dari serangkaian peristiwa itu, kata Hasanuddin, dapat disimpulkan, strategi yang dilakukan teroris di Indonesia saat ini sudah berubah, dari terstruktur atau teroganisir menjadi non organisir atau gerakan inisiatif perorangan di wilayah masing-masing sesuai dengan kemampuannya. "Targetnya tetap membuat kerugian terhadap aparat keamanan yang dianggap thogut," ujarnya.

Menurutnya, gerakan ini bisa jadi sudah tersebar dibanyak titik, yang sewaktu-waktu dapat muncul atau bergabung bersama. "Ini adalah bentuk kegagalan deradikalisasi di dalam negeri, maupun upaya memfilter dan mengawasi mereka yang baru kembali dalam pertempuran di Irak dan Suriah," kata Hasanuddin mengingatkan.

Pola gerak teroris dalam melakukan perlawanan sekarang ini memang seadanya, bisa dengan sangkur, pisau dan panah. Tapi, tujuannya untuk merebut senjata aparat keamanan, seperi modus teroris yang terungkap saat penyerangan di Mapolda Sumut dan Masjid Falatehan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Setelah senjata aparat keamanan berhasil direbut mereka, pelaku teror itu akan melakukan gerilya kota, menembak hit and run.

Tidak mustahil, setelah beberapa pucuk senjata direbut, mereka melakukan penyerbuan terbatas terhadap pos keamanan tertentu. Untuk itu, sekali lagi, pemerintah harus benar-benar mampu mengorganisir kekuatan yang dimiliki guna menghadapi teroris.

"Sebab, teroris saat ini tidak bisa lagi dihadapi dengan hanya mengerahkan dua sampai tiga elemen saja, tapi harus mengorganisir seluruh komponen bangsa, termasuk pemimpin non formal," ujarnya.

Catatan lainnya adalah pemerintah harus menertibkan akun-akun di sosial media yang kerap melakukan provokasi dan menyebarkan ujian kebencian. "Sebab, mencermati dari aksi penikaman dua polisi di Masjid Falatehan yang dilakukan Mulyadi, ternyata si pelaku bukanlah jaringan teroris ISIS, tapi tindakan Mulyadi dilakukan karena terkoptasi dengan postingan kelompok pro ISIS di sosial media," kata Hasanuddin.

Hal senada juga diungkapkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Tito mengatakan, penyerangan teroris terhadap dua anggota Brimob di Masjid Falatehan menggunakan metode leaderless jihad. Karakter serangan dengan metode ini adalah efek serangan tidak terlalu besar karena serangan tidak terstruktur.

"Kasus diduga kasus Mulyadi ini yang di Faletehan adalah kasus leaderless jihad. Nah biasanya serangan mereka tidak terlalu besar," kata Tito di Rupatama, Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (4/7).

Leaderless jihad sangat berbeda dengan metode teror yang dilakukan jaringan. Tito mencontohkan metode teror yang dilakukan jaringan adalah Bom Bali dan Bom JW Marriot.
"(Leaderless jihad) Nggak seperti Bom Bali yang dibuat terstruktur, bomnya besar, sasarannya juga, impactnya besar. Nggak seperti Marriot," ujar Tito.

Para teroris leaderless jihad ini menggunakan alat seadanya saat menyerang karena mereka tak terlatih meneror, bergerak sendirian, kurang strategi dan kemampuan. "Maka itu menggunakan pisau. Kemudian ada di beberapa tempat seperti di Inggris, menabrakkan kendaraan," jelas Tito.

Meski serangan teror terlihat meningkat, pihak kepolisian mengimbau masyarakat Jakarta tidak khawatir. Seperti diketahui, sebelumnya ada pesan kaleng di Mapolsek Kebayoran Lama yang diduga dilakukan ISIS yang berisi ancaman untuk menjadikan Jakarta seperti Marawi, Filipina.

"Masyarakat jangan panik, namun tetap waspada," kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto di gedung Divisi Humas, Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (4/7).

Setyo mengatakan kepolisian terus menerapkan pengamanan maksimal seusia dengan standard operating procedure (SOP) yang telah ditetapkan. Dia pun mengajak masyarakat bersama-sama memerangi ideologi dan tindak pidana terorisme. "Polisi tetap melakukan pengamanan maksimal sesuai SOP. Kami mengajak masyarakat bersama-sama perangi terorisme," ucap Setyo.


Baca selanjutnya: 1 2

Komentar