Potensi Pecah Suara NU di Pilkada Jatim

Selasa, 08 Agustus 2017, 11:00:00 WIB - Politik

Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf atau Gus Ipul (kanan) menandatangani sejumlah dokumen disaksikan Koordinator Divisi Pendaftaran, Administrasi dan Koordinasi Wilayah Desk Pilkada DPD Partai Demokrat Maskur (ketiga kanan) di Kantor DPD Demokrat Jatim di Surabaya, Jawa Timur, Senin (31/7). (ANTARA)

HEAD TO HEAD - Kecenderungan Khofifah ingin head to head dengan Gus Ipul terlihat dari keengganannya untuk mendaftar via partai dimana Gus Ipul mendaftar. Hal ini bisa dipahami karena bisa saja Khofifah keburu terjegal di internal parpol sebelum bisa maju. Di pendaftaran via Golkar pun, Khofifah sepertinya tak bakal ikut.

Terkait hal ini, Nyono mengaku tak bisa memastikan. "Saya belum tahu, karena pembukaannya baru dimulai hari ini. Saya belum berkomunikasi (dengan Khofifah)," kata dia. Meski demikian, Nyono optimis Khofifah akan ikut mengambil formulir pendaftaran bacagub ke Golkar. "Insyaallah beliau mengambil," jelasnya.

Pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Madura, Bangkalan, Mochtar W Oetomo mengatakan, langkah Gus Ipul mendaftar di Golkar seperti ingin menutup langkah Khofifah. "Sepertinya Gus Ipul sadar betul, jika Khofifah cenderung tidak mau mendaftar melalui partai di mana dia (gus Ipul) juga mendaftar," kata Mochtar, Senin (7/8).

Dia menerangkan, Gus Ipul menjadi tokoh yang pertama mendaftar di Partai Golkar. Begitu juga pendaftaran di PDI Perjuangan maupun Partai Demokrat. Dengan strategi tersebut, Gus Ipul ingin menerapkan politik sandera.

"Gus Ipul sengaja mendahului, agar Khofifah kembali kehilangan momentum untuk mendaftar. Dengan kata lain, Gus Ipul menerapkan politik sandera, untuk meminimalisir kemungkinan Khofifah mendapatkan tiket dari partai," ungkapnya.

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya UTM, Bangkalan ini menilai, dinamika politik menjelang Pilgub Jatim sepertinya mengalami kebuntuan atau jalan ditempat. Karena, partai politik seolah-olah tersandera dengan dua nama yang harus diusung di Pilgub Jatim 2018 yakni Gus Ipul dan Khofifah.

Menurutnya, Khofifah dan Gus Ipul menjadi 'kiblat' partai dan seolah-olah menenggelamkan kadindat lain. Bahkan, parpol-parpol, termasuk yang sudah membuka pendaftaran seperti PDIP, Demokrat, dan Golkar, sampai hari ini masih terus menunggu kepastian Khofifah apakah akan maju di Pilgub Jatim.

"Kenyataannya Khofifah sampai saat ini belum menyatakan sikap. Dengan dua kata 'saktinya' yakni, check sound dan menyamakan frekuensi. Bungkamnya Khofifah dan strategi PDIP yang kerapkali memutuskan kandidat yang diusungnya pada last minute, membuat Pilgub Jatim menjadi monoton, saling sandera dan jalan di tempat," sebut Mochtar.

Agar calon gubernur 'tidak dikuasai' oleh Gus Ipul dan Khofifah serta agar dinamika menjadi menarik, Mochtar mengatakan diperlukan calon independen. Disinggung mengenai siapa saja calon perseorangan yang dinilai bakal ikut meramaikan tensi Pilgub Jatim 2018, Mochtar yang juga Direktur Surabaya Survey Center (SSC) ini, mengatakan nama yang layak maju seperti La Nyalla M Mattalitti.

"Agar Pilgub Jatim ini berjalan tidak monoton, maka harus ada yang berani deklarasi sebagai calon independen atau dari jalur perseorangan. (La Nyalla) dia sebagai Ketua Kadin (Kamar dagang dan industri) Jawa Timur. Pernah menjabat Ketua Umum PSSI. Juga masih aktif sebagai Ketua Umum MPW pemuda Pancasila. Tentu modal ini cukup kuat bagi la Nyalla untuk maju dari jalur perseorangan," bebernya.

Selain La Nyalla, ada tokoh lainnya seperti Hasan Aminuddin, anggota DPR RI dari Partai NasDem dan pernah menjabat Bupati Probolinggo selama dua periode. "Pak Hasan jika maju lewat jalur perseorangan sangat terbuka. Karena Partai NasDem tempatnya bernaung hanya memiliki 4 kursi di DPRD Jatim," tambah Mochtar.

Melihat kekuatan yang dimiliki Hasan Aminuddin, potensi maju melalui jalur independen akan sangat terbuka. Namun, ada syarat yang harus dipenuhi oleh Hasan. "Asalkan, pasangan Pak Hasan berasal dari wilayah Mataraman, dan dari kelompok nasionalis, baik dari tokoh politik atau tokoh kultural," terangnya sambil menambahkan, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap partai politik saat ini mulai menurun.

Selain kedua nama tersebut, tokoh yang memiliki kans maju melalui jalur independen seperti Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Bupati Trenggalek Emil Dardak. "Pak Anas selama ini dikenal sebagai tokoh muda Nahdlatul Ulama di Banyuwangi, dan memiliki basis kekuatan mulai dari para ualam hingga simpatisan NU di Banyuwangi," ujarnya. "Sedangkan Bupati Emil, akhir-akhir ini memiliki potensi menjadi media darling," tutupnya.


Baca selanjutnya: 1 2 3

Komentar