Wawancara Eksklusif Din Syamsuddin: "Islam Tak Menghendaki Perayaan Simbolik"

Jum'at, 17 Juli 2015, 09:00:00 WIB - Tatap_muka

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin (kanan) dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddinberjabat tangan dengan sejumlah perwakilan negara sahabat sebelum mengikuti Sidang Itsbat Awal Ramadan 1436 H di Gedung Kemenag, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta, Selasa (16/6). (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Makna Lebaran bagi seorang yang memimpin jutaan umat Islam memiliki makna tersendiri. Tak terkecuali bagi orang nomor satu di Pengurus Pusat Muhammadiyah dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin.

Menurutnya, Muhammadiyah, yang merupakan organisasi pelopor pembaharuan Islam di Indonesia, memaknai Lebaran sebagai ungkapan syukur atas kemenangan jihad akbar melawan nafsu duniawi selama Ramadan. Namun cendekiawan ini juga mengingatkan untuk masyarakat tidak bermewah-mewahan dalam merayakan Lebaran meski perayaan itu disunahkan.

Menurut Din, Idul Fitri juga bisa menjadi sarana mempererat silahturahmi antarumat, mengingat rentannya perpecahan sesama umat akhir-akhir ini.

Berikut wawancara singkat reporter Gresnews.com Agung Nugraha dengan Din Syamsuddin di kantor PP Muhammadiyah, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Selasa (13/7).

Apa makna dan arti perayaan Idul Fitri menurut Anda?
Bismillahirohmanirohim, saya akan menjawab pertanyaan anda, mengenai makna dan arti perayaan Idul Fitri. Sebagai umat Islam kita disunahkan untuk merayakannya sebagai ungkapan syukur atas kemenangan jihad akbar melawan nafsu duniawi selama Ramadan.



Tapi ingat, Islam tak menghendaki perayaan simbolik, bermewah-mewah. Apalagi sambil memaksakan diri. Islam menganjurkan perayaan ini dengan kontemplasi dan tafakur tentang perbuatan kita selama ini.

Bagaimana Muhammadiyah memaknai Lebaran ini?
Muhammadiyah menyikapi hal ini bukan hanya sebatas seremonial, Muhammadiyah memaknai Lebaran sesuai dengan ajaran Rasulullah Muhamad SAW.

Maksudnya?
Idul Fitri seperti kita ketahui bersama, manusia pada hari itu laksana seorang bayi yang baru keluar dari dalam kandungan yang tidak mempunyai dosa dan salah. Sebab baru saja kita semua melaksanakan ujian di dalam bulan suci Ramadan, yakni melakukan puasa satu bulan penuh dengan menahan hawa nafsu, tadarrus al-Qur’an, tarawih, dan mengeluarkan zakat fitrah, serta ibadah-ibadah lainnya, termasuk menyantuni fakir miskin dan anak yatim.

Keutamaan itu yang harus kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, usai menunaikan ibadah puasa sebulan penuh lamanya, tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan perintah Allah SWT, melakukan perbuatan bathil seperti menipu, mencuri dan menerima apa yang bukan menjadi haknya.

Bagaimana Muhammadiyah menyikapi perpecahan umat Islam, sebab beberapa waktu lalu di beberapa wilayah ada perseteruan mengenai perbedaan paham. Perbedaan itu menimbulkan konflik hingga korban jiwa?
Perbedaan pendapat dalam Islam itu adalah hal yang biasa, kita sebagai umat harus dapat menyikapi perbedaan tersebut sesuai dengan ajaran agama Islam. Islam mengajarkan kita untuk saling memberi dan menyayangi sesama umat, jadi kalau ada konflik hingga menimbulkan korban jiwa itu sudah keluar dari batasan koridor agama.

Muhamadiyah menyayangkan sikap umat yang terprovokasi oleh keadaan. Agama di Islam itu sendiri, kita diajarkan bagaimana menyelesaikan berbagai masalah dengan musyawarah, selesaikan semua dengan kepala dingin, Insya Allah, Allah akan beri petunjuk jalan keluar.

Mengenai toleransi beragama, secara spesifik berarti sikap dan perbuatan yang melarang diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda. Bagaimana jika mayoritas tidak mengakui dan melarang minoritas mendirikan tempat ibadah. Bagaimana Muhammadiyah menyikapi hal tersebut?
Islam mengajarkan habluminalloh dan habluminannas kepada umatnya. Rasulluloh mengajarkan kita saling menghargai dan bertoleransi antar umat beragama, dahulu umat Islam hidup rukun berdampingan dengan umat non-muslim, selama tidak melanggar aturan yang sudah ditetapkan oleh agama Islam. Beberapa contoh bentuk toleransi beragama seperti perniagaan/bisnis, Rasulluloh melakukan itu tanpa melihat siapa yang menjadi rekan bisnisnya dan ketika Beliau memimpin suatu wilayah, Beliau dan para sahabat kerap berlaku adil. Jadi tidak benar toleransi dalam agama Islam itu tidak ada, justru agama Islam menganjurkan toleransi diterapkan dalam kehidupan beragama, selama tidak ada hal yang bertentangan dengan Alquran dan Hadist.

Menurut Anda toleransi Beragama di Indonesia seperti apa?
Selama ini perkembangan toleransi beragama di Indonesia sangat baik, walaupun di beberapa wilayah di Indonesia masih terdapat konflik perbedaan mengenai masalah agama, dan kaitan keragaman beragama. Dalam hal toleransi harus lebih dipererat, tidak usah kita mencari perbedaan yang ada, mari kita mencari kesamaan pemikiran dalam mencapai tujuan bersama Indonesia Bersatu, Adil dan Makmur.

Terima Kasih Pak Din atas wawancaranya?
Sama-sama, Saya dan seluruh warga Muhammadiyah mengucapkan Mohon Maaf Lahir dan Batin, Selamat Iduf Fitri 1436 Hijriyah.

Komentar