Perjuangan Warga Kendeng Menolak Pabrik Semen

Senin, 20 Maret 2017, 21:00:08 WIB - Hukum

Sejumlah Petani Kendeng memberikan keterangan kepada awak media hasil pertemuan dengan Kepala Staf Presiden Teten Masduki di Kompleks Istana Kepresidenan di depan Istana Merdeka, Jakarta, Senin (20/3). Aksi semen kaki petani Kendeng yang menolak pembangunan dan penambangan di Pegunungan Kendeng tersebut akan terus berlanjut karena beranggapan pemerintah hanya akan menunda proyek penambangan milik PT Semen Indonesia di kawasan itu. (ANTARA)

PESERTA AKSI BERTAMBAH - Peserta aksi unjuk rasa cor kaki di seberang Istana Negara terus bertambah. Saat melakukan aksi cor kaki pertama kali pada Senin (13/3) lalu, jumlah pesertanya hanya 11 orang. Dalam pantauan gresnews.com, jumlah peserta aksi tersebut pada Senin (20/3) adalah 58 orang.

Salah seorang pendamping peserta aksi, Matthew Michele Lenggo menerangkan, seluruh peserta aksi tolak pembangunan pabrik semen di wilayah Kendeng saat ini mencapai 220 orang.

"Itu total peserta, ya. Yang cor kaki jumlahnya di atas 50 orang. Hari ini, peserta aksi cor kaki bertambah. Bukan hanya petani atau warga Kendeng, beberapa teman aktivis HAM juga ikut mencor kaki mereka," kata Matthew kepada gresnews.com, Senin (20/3).

Matthew menerangkan, aksi ini tidak akan dihentikan sebelum Presiden Joko Widodo menemui warga dan memenuhi tuntutan mereka. Hal tersebut diamini oleh Suparti, petani asal Rembang yang mencor kakinya sejak 8 hari lalu. "Semen di kaki saya tidak akan dilepas sebelum presiden bertemu dan memenuhi tuntutan kami," kata Suparti.

Suparti menerangkan, sebagai petani, dirinya juga memiliki lahan yang ditanami aneka tumbuhan di sekitar pabrik semen. Disinggung soal ada-tidaknya efek yang timbul akibat kakinya dicor, Suparti menggelengkan kepala. "Tidak ada. Selama ini baik-baik saja," katanya.

Disampaikan Matthew, pihak-pihak yang ingin kakinya dicor terlebih dulu diperiksa oleh tim medis. Jika ada di antara mereka yang diketahui memiliki masalah kesehatan, maka tim medis tidak membolehkan mereka melakukan aksi cor kaki.

"Jadi selama ini kesehatan peserta juga diperhatikan. Bahwa di media sosial beredar pernyataan yang menyebut aksi ini melanggar HAM, mereka tidak tahu duduk persoalannya. Setiap hari kesehatan para peserta diperiksa. Kami juga menyediakan 'toilet portabel' khusus untuk warga yang dicor kakinya " kata Matthew.

Ia juga menjelaskan, selama berada di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), para petani Kendeng dan peserta aksi lain yang datang dari berbagai daerah kebutuhan logistiknya tercukupi. Menurutnya, pihak YLBHI sengaja membuka donasi bagi pihak-pihak yang ingin berkontribusi dalam aksi ini, dan sejauh ini tanggapan masyarakat cukup lumayan. Tak sedikit yang ikut memberi sumbangan untuk keperluan warga Kendeng dan relawan lain selama mereka di Jakarta.

Matthew menerangkan, pesarta aksi tidak hanya datang dari kawasan Kendeng. Petani lain di wilayah Jawa Tengah, beberapa di antaranya dari Gombong, Sragen, dan Cilacap, ikut turun dalam aksi ini. Mereka ikut turun bukan semata lantaran solidaritas, tapi lantaran merasa punya masalah serupa dengan masalah yang dihadapi para petani Kendeng.

"Persoalan kerusakan wilayah yang terjadi akibat hubungan pemerintah dan pemodal, terjadi juga di daerah lain. Ini yang menyebabkan petani dari luar Kendeng ikut datang ke Jakarta. Ada persoalan serupa yang dihadapi mereka," pungkas Matthew.


Baca selanjutnya: 1 2 3

Komentar