Satu transaksi senilai Rp26 triliun. Dampaknya? Bursa saham Indonesia ambruk 14,9 persen dalam sepekan.
Konglomerat Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam, lewat PT Jhonlin Baratama, merampungkan akuisisi 30,25 persen saham PT Bayan Resources Tbk senilai Rp26,1 triliun, Rabu (7/10)—dibeli di harga Rp2.588 per saham, jauh di bawah harga pembukaan hari itu yang tembus Rp13.450. Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, menyebut transaksi ini "sarat intervensi dan tidak transparan". Dampaknya merembet jauh: MSCI kini mengancam menurunkan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market ke Standalone Market.
Dicecar Bursa Efek Indonesia soal kreditnya ke Haji Isam, Bank Mandiri lewat Senior Vice President Adhika Vista membela diri: kredit itu bukan untuk spekulasi saham, melainkan sudah lewat tiga pilar penilaian OJK—prospek usaha, kinerja, dan kemampuan bayar.
Satu transaksi di atas kertas, ternyata cukup untuk menggoyang kepercayaan jutaan investor yang bahkan tak pernah dengar namanya.
