Apa jadinya kalau negara mendisiplinkan kemiskinan dengan cara militer? Seribu calon tentara akan masuk ke sekolah anak-anak paling miskin di republik ini.
Agustus nanti, seribu taruna Akmil dikirim ke 178 Sekolah Rakyat. Wamensos Agus Jabo Priyono dan Danjen Akademi TNI Letjen Sidiharta Wisnu Graha menyebutnya pembentukan karakter—sekadar mengajar kerapian dan ketepatan waktu.
Tapi Direktur Amnesty International Usman Hamid membongkarnya lebih dalam: ini ketimpangan kuasa terhadap anak-anak rentan, doktrin kepatuhan dibungkus kata manis "pembinaan".
Ketua Setara Institute Hendardi lebih tegas lagi: ini preseden berbahaya. Seolah karakter bangsa hanya bisa lahir dari komando, bukan pendidikan yang memanusiakan.
Kepala Pusat Penerangan TNI justru balik bertanya: "Cuma diajari merapikan kasur dan menyemir sepatu, apa yang perlu ditakutkan?" Bantahan itu terdengar tenang—tapi tak menjawab kenapa yang dipilih justru anak-anak yang paling tak berdaya untuk menolak.
Antara niat baik dan kekhawatiran mendalam. Namun yang jelas karakter kekerasan tidak dibutuhkan untuk anak-anak sejak dini.
