Bagaimana jika pemburu tiba-tiba jadi buruan di tanah hukum yang seharusnya mereka lindungi? Rabu malam itu, sebuah operasi sunyi berubah jadi malapetaka.
Tim narkoba bergerak diam-diam ke Tumbang Kalemei, memburu bandar sabu berinisial BIO. Penangkapan berjalan mulus, BIO diringkus. Tapi keluarganya melawan. Tembakan peringatan meletus. Satu warga bernama Teriyo tewas seketika.
Amarah tersulut. Ratusan warga datang membawa parang, balok, senjata rakitan. Polisi yang tadinya berburu, kini diburu di kampung sendiri.
Mereka lari ke sungai, bersembunyi di pulau kecil di tengah arus. Tapi ancaman tembakan dari daratan memaksa mereka berenang lagi dalam gelap, dalam lelah, dalam takut yang tak terbayangkan. Yang seharusnya jadi pelindung mereka justru jadi jebakan maut: tiga personel tenggelam dalam arus sungai yang mereka kira jadi jalan selamat.
Kapolres AKBP Dodik Hartono membenarkan, semua terjadi dalam hitungan jam. Satu ditemukan tak bernyawa, dua lainnya masih hilang hingga kini. Ironinya: mereka datang menegakkan hukum tapi sungai tak pernah kenal seragam.
