BINATU MASUK BURSA

Post Image
Ilustrasi AI

Tren di medsos ini menjijikkan sekali: pamer outfit Nagita Slavina, istri Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni Raffi Ahmad. Outfit Lebaran Rp100 juta. Jaket Rp94 juta. Sandal Rp27 juta. Kemeja jeans Rp16 juta. Tas Rp1,4 miliar!

Konten flexing itu dilumat orang Indonesia—negara di mana kemiskinan dan kebodohan masih merajalela, dan dalam situasi ekonomi yang sulit, tercermin dari survei Kompas pada April 2026 yang menyatakan 61,8% responden mengaku sangat sulit mendapatkan pekerjaan. Tapi tak sedikit orang Indonesia yang akhirnya "mendikte" Tuhan ketika berdoa, memohon agar bisa sekaya keluarga Raffi Ahmad—meskipun tak sedikit juga yang mencibir bahwa kekayaan keluarga itu berasal dari bisnis "binatu" alias "tukang cuci".

Tapi saya mau bilang: Raffi Ahmad adalah contoh paling nyata kombinasi maut politik, bisnis, dan entertainment. Di negara tempat kemiskinan, kebodohan, dan kemunafikan merajalela, perkawinan tiga hal itu cenderung laku keras.

Itulah mungkin kenapa, setelah selama ini terbukti laku di udara, Raffi Ahmad mulai ingin menguasai daratan dengan melakukan IPO (penawaran saham perdana) perusahaannya (PT RANS Entertainmen Indonesia Tbk.) kepada masyarakat di bursa yang Indeks Harga Saham Gabungannya (IHSG) adalah salah satu yang terburuk di dunia (turun 31,81% sejak awal 2026 sampai Juni 2026 ini).

Selain Raffi Ahmad, anak Jokowi sekaligus Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep dan Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi Danantara Dony Oskaria adalah pemegang sahamnya. Komisaris Utama RANS adalah Darwin Cyril Noerhadi, yang pernah menjadi anggota Dewan Pengawas Indonesia Investment Authority (INA) periode 2021–2026.

Kalau dilihat prospektusnya, RANS ini kelihatannya masih berada dalam ekosistem media Emtek Group melalui PT Indonesia Entertainment Group (IEG)—yang 72,84% dikuasai SCTV—dan memiliki hak veto efektif atas hampir semua keputusan material RANS: investasi, pinjaman, perubahan manajemen, hingga IPO. Dalam IPO ini, underwriter (penjamin pelaksana emisi efek) yang ditunjuk adalah PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM), emiten yang dikendalikan Garibaldi "Boy" Thohir—kakak Erick Thohir.

Gampangnya begini. Selama ini orang menjuluki Raffi Ahmad "sultan" tanpa pernah tahu berapa nominal kekayaannya yang sebenarnya. Dengan IPO ini, dia mau "melegalkan" status sultan itu—setidaknya untuk sedikit menepis tudingan bisnis "binatu" tadi.

Jadi, sekaya apa Raffi Ahmad? Dari prospektus, Raffi memegang 78,68% atau sekitar 7,9 miliar lembar saham RANS, sedangkan Nagita hanya 1,24%. Dengan harga penawaran Rp135–Rp170 per lembar, kekayaan Raffi dari kepemilikan RANS saja mencapai Rp1,07 triliun hingga Rp1,35 triliun. Sementara itu, dari LHKPN per 27 Desember 2024 yang dipublikasikan KPK, total kekayaan bersih Raffi Ahmad tercatat Rp1,03 triliun.

Melalui IPO ini, RANS menjual 20% kepemilikan (minoritas) kepada masyarakat, senilai Rp341 miliar hingga Rp429 miliar. Setelah IPO, saham Raffi di RANS memang berkurang menjadi 62,93%—tapi dia tetap pemegang saham mayoritas pengendali.

Tumpuan utama bisnis RANS adalah nama Raffi Ahmad, Nagita Slavina, dan anak-anak mereka. Kebayang betapa ruwet dan berisikonya kalau—amit-amit—terjadi sesuatu di keluarga itu. Misalnya: cerai.

Ada Perjanjian Eksklusivitas dan Pemberian Lisensi tertanggal 1 Januari 2018 yang memberikan hak eksklusif penggunaan nama Raffi Ahmad kepada RANS selama 10 tahun, senilai Rp700 juta per tahun (Nagita Rp430 juta per tahun). Berdasarkan perjanjian yang dibuat hanya secara bawah tangan itu, dari setiap kontrak dengan klien, RANS mengambil 80% dan Raffi hanya menerima 20%.

Pertanyaannya: wajar tidak, Rp700 juta per tahun untuk lisensi nama Raffi Ahmad secara pasar? Padahal, menurut CNBC Indonesia, tarif endorsement keluarga Raffi-Nagita adalah Rp20–27 juta per hari untuk paid promote otomatis, Instagram foto Rp40–60 juta per bulan, Instagram video Rp60–85 juta per tiga bulan, Instagram TV Rp125 juta per bulan untuk durasi 10 menit, dan YouTube Rp200–250 juta per tahun. Sebagai perbandingan, Syahrini saja pernah dikontrak Shopee sebagai brand ambassador senilai Rp2 miliar—dan itu sudah terjadi pada 2019!

Bukankah wajar jika kita menduga kuat inilah yang dinamakan transfer pricing atau underpricing? Raffi Ahmad menjual lisensi namanya sendiri kepada perusahaan yang dia kendalikan sendiri—ada hubungan istimewa di sana—pada harga yang lebih rendah dari, atau setidaknya tidak sesuai dengan, harga pasar (prinsip arm`s length)?

Dan bukankah transfer pricing, underpricing, underinvoicing, dan sejenisnya adalah hal yang sedang dilawan oleh Presiden Prabowo Subianto—seperti kerap kita dengar dari pidato-pidatonya? Bagaimana bisa utusan khusus presidennya sendiri diduga melakukan hal seperti itu?

Belum lagi soal pajaknya. Jika bekerja sebagai artis mandiri tanpa korporasi RANS, Raffi bisa dikenai Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 progresif hingga 35%. Tapi dengan adanya RANS, PPh-nya jadi jauh lebih kecil: fee artis Raffi hanya dihitung dari 20% penerimaan lisensi nama. Sementara 80% sisanya masuk ke kas RANS dan hanya dikenai PPh Badan sebesar 22%—dari basis yang sudah diperkecil karena dipotong berbagai biaya operasional.

Siasat "cerdas" lainnya lewat utang. RANS pernah meminjamkan uang kepada Raffi Ahmad secara pribadi sebesar Rp95,7 miliar—dan baru dilunasi menjelang IPO pada 2025—dengan bunga hanya BI Rate plus 1%. Karena diperlakukan sebagai utang, tidak ada pajak atas transaksi itu. Berbeda dengan dividen yang dikenai pajak final 10%.

Belum lagi ada belasan CV vendor yang terafiliasi dengan Raffi Ahmad, menjadi rekanan RANS, dan biayanya dibukukan sebagai beban pokok pendapatan alias biaya produksi. Bahasa kerennya: cost stripping—membayar vendor berelasi sehingga basis pajak RANS jauh lebih kecil, sementara pendapatan mengalir ke CV-CV itu yang tidak wajib audit publik.

Jadi terbayanglah betapa rendahnya posisi masyarakat Indonesia dalam ekosistem ini: sudah miskin, disuruh nonton konten flexing, doa kepada Tuhan pun ikut "didikte", ritelnya dirayu beli saham untuk menyuntikkan Rp400-an miliar ke perusahaan sang sultan—sementara keluarga sultan makin kaya, namanya makin harum di bursa, pajaknya lebih ringan, dapat pinjaman murah dari perusahaannya sendiri, dan tetap menikmati dividen.

Pada kampanye Pemilu 2029, dengan logistik dan ekosistem sang sultan yang makin kuat itu, masyarakat pun tinggal dikasih nasi bungkus—lalu joget oke-gas oke-gas lagi, dengan doa yang tetap sama: semoga bisa sekaya Raffi Ahmad!

Salam,
AEK