Kalau jalur minyak dunia tersumbat Indonesia harus ikut siapa? Atau justru diam adalah satu-satunya pilihan? Ketegangan di Selat Hormuz makin memanas. Kapal tanker dari China dipaksa putar balik. Tekanan datang dari Amerika Serikat.
Di sisi lain, Iran mengancam kapal-kapal bisa ditenggelamkan kapan saja. Ini bukan sekadar konflik jauh. Hampir sepertiga minyak dunia lewat jalur ini. Kalau tersendat? Harga naik. BBM mahal. Dapur rumah ikut panas. Indonesia ada di tengah dilema.
Ikut satu kubu berisiko kehilangan akses. Diam dianggap tak berpihak. Padahal ini bukan sekadar politik luar negeri. Ini soal energi. Soal ekonomi. Soal hidup jutaan orang. Mungkin di dunia yang memaksa semua orang memilih justru yang bertahan adalah yang tidak terlihat memilih cukup dekat untuk aman, cukup netral untuk tetap hidup.
