6 Barang, 1 Pengakuan: Awal Runtuhnya Jaringan Bea Cukai?

Bagaimana jika sebuah pengakuan justru jadi pintu masuk ke skandal yang lebih gelap? Dan enam barang itu bisa jadi kuncinya. Gedung Merah Putih milik Komisi Pemberantasan Korupsi tak pernah benar-benar sunyi.

Di dalamnya, nama Faizal Assegaf dipanggil. Bukan sebagai pengkritik. Tapi sebagai saksi yang mengaku. Enam barang disita. Beberapa di antaranya alat elektronik diam, tapi menyimpan jejak.

Kasus ini mengarah ke Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Tempat di mana aturan dan kepentingan sering beradu diam-diam.

Nama lain muncul: Rizal. Diduga memberi fasilitas. Tapi kenapa? Untuk apa? Penyidik menggali. Satu demi satu alasan dibuka. Dan Faizal tak membantah. Tapi masalahnya bukan pada barang yang diterima. Melainkan niat di balik pemberian itu.

Karena kalau “fasilitas” bisa mengubah arah keputusan, maka yang dipertaruhkan bukan cuma hukum tapi kepercayaan publik. Dan mungkin yang sedang diperiksa hari ini bukan hanya satu orang, melainkan seluruh sistem yang selama ini terlihat baik-baik saja.