Hari ketiga pelaksanaan Ujian Nasional (UN) di SMPN 63 Jakarta di Jl Perniagaan No 31, Tambora, Jakarta Barat sempat diwarnai kekhawatiran akan ambruknya plafon di salah satu ruang kelas yang digunakan sebagai tempat UN.

Jakarta - Hari ketiga pelaksanaan Ujian Nasional (UN) di SMPN 63 Jakarta di Jl Perniagaan No 31, Tambora, Jakarta Barat sempat diwarnai kekhawatiran akan ambruknya plafon di salah satu ruang kelas yang digunakan sebagai tempat UN. Kekhawatiran itu muncul, setelah sebelumnya plafon bagian tengah salah satu ruang kelas VIII sekolah tersebut ambruk Selasa (24/5) sekitar pukul 18.30. Diduga, ambruknya plafon itu disebabkan usia bangunan sekolah yang sudah tua serta rapuh akibat termakan rayap.

Beruntung, pelaksanaan UN hari ketiga yang mengujikan mata pelajaran Matematika hari ini berjalan lancar, setelah sebelumnya pihak sekolah memperbaiki plafon yang ambruk tersebut hingga dinihari tadi.

Kepala SMPN 63, Agus Susilo mengatakan, peristiwa ambruknya plafon dalam ruang kelas itu kali pertama diketahui oleh seorang penjaga sekolah sekitar pukul 18.30. Penjaga sekolah itu mengaku, mendengar suara keras seperti barang yang terjatuh dari atap. Setelah dicek, bunyi keras itu berasal dari ambruknya plafon di salah satu ruang yang digunakan untuk pelaksanaan UN.

"Kami menduga ambruknya plafon tersebut karena sudah termakan usia juga dikarenakan banyaknya kayu yang keropos akibat serangan rayap. Alhasil, paku yang berfungsi merekatkan triplek pada rangka kayu tidak kuat lago menahan beban triplek hingga akhirnya ambruk," ujar Agus, Rabu (25/4).

Ganggu UN
Khawatir, peristiwa itu akan mengganggu jalannya pelaksanaan UN, dikatakan Agus, pihaknya langsung memperbakinya saat itu juga dengan mengerahkan sejumlah pekerja bangunan. Perbaikan dilakukan hingga pukul 01.00 dinihari tadi.

"Kami sempat khawatir kejadian ini akan mengganggu jalannya UN. Tapi berkat kerja keras pekerja bangunan yang memperbaiki plafon itu, pelaksanaan UN hari ini dapat berjalan lancar tanpa adanya gangguan," kata Agus.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta, Taufik Yudi Mulyanto yang mengunjungi sekolah tersebut menuturkan, bangunan SMPN 63 diakuinya memang merupakan bangunan lama yang usianya telah mencapai 60 tahun. Sekolah ini juga termasuk sebagai bangunan cagar budaya.

"Kondisi bangunan memang sudah tua. Namun kerusakan yang ditimbulkan tergolong kecil dan langsung ditangani pihak sekolah. Sehingga tidak sampai mengganggu kegiatan UN," kata Taufik.

Diungkapkan Taufik, berdasarkan rencana tahun 2013, Dinas Pendidikan DKI Jakarta akan merehab dan membangun sekolah tersebut menjadi tiga lantai.

"Rencananya akan kami jadikan tiga lantai tentunya tanpa merubah bangunan cagar budaya sekolah ini," tandasnya seperti dikutip beritajakarta.com.