Ratusan Anggota ISIS Terdeteksi Berada di Bali dan NTB

Sabtu, 19 Agustus 2017, 20:06:54 WIB - Peristiwa

Pangdam Udayana Mayjen TNI Komaruddin Simanjuntak (rri.co.id)


JAKARTA, GRESNEWS.COM - Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) Udayana Mayjen TNI Komaruddin Simanjuntak mengaku mendeteksi ada ratusan anggota ISIS yang bermukim di tiga wilayah, yakni Bali, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat.

Ratusan anggota ISIS itu telah pulang dari Timur Tengah. Ia menyebut di Bali ada sekitar 50 orang, di NTT ada sekitar 25 orang dan terbanyak ada di NTB yang mencapai 600-an orang.

Namun ia menegaskan posisi orang-orang itu masih terkendali dan tidak melakukan aktiovitas. "Posisinya terkontrol dan dia 'tidur'," kata Komaruddin di Denpasar, Bali, Sabtu (19/8).

Menurut Komaruddin, TNI bersama Polri telah mengetahui posisi semua anggota ISIS itu. Di mengatakan, Mereka akan tetap dibuat 'tertidur' atau non-aktif demi stabilitas nasional dan kedaulatan Republik Indonesia.



"Jadi harus kita buat dia tertidur. Sel-sel tertidur sehingga anak sekolah bisa tetap belajar dengan baik, pemerintahan berjalan baik, pengusaha bisa berbisnis dengan baik dan wartawan juga bisa bikin berita baik-baik," ujar Komaruddin.

Komaruddin mengatakan warga negara Indonesia yang telah memilih ISIS daripada bangsanya sendiri itu tetap memiliki hak. Namun demikian, mereka tidak bisa lagi bergerak bebas seperti warga negara Indonesia yang setia pada bangsa sendiri.

Dikatakannya sebagai warga negara mereka masih memiliki hak, walau mungkin dia menyimpang.Namun meskipun dari Suriah sana dia kembali ke Indonesia, bukan berarti dia bebas begitu saja. "Dia terdaftar di kepolisian dan di negara, di mana alamatnya, posisinya, itu pasti termonitor," ujar Komaruddin.

Ditegaskan Komaruddin, kearifan lokal adalah kekuatan bangsa Indonesia. Kekuatan itu mampu membendung paham-paham radikal yang berlawanan dengan Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI.

Komaruddin menyebut, paham radikal bisa masuk dan diterima segelintir anak bangsa karena ketidakpahaman atas sejarah bangsa Indonesia. Masuknya paham radikal juga disebabkan kemajemukan masyarakat Indonesia.

"Itu adalah anak bangsa, sekelompok kecil yang tidak mengerti sejarah. Kalau dia mengerti sejarah bangsa dan negara, maka dia tidak akan berbuat seperti itu. Kalau ada paham negara lain masuk ke Indonesia, dia mau, karena kita heterogen dan majemuk," tambahnya. (dtc/rm)

Komentar