Menembus Batas Zaman: Diplomasi Budaya dan Jejak Transnasional Syekh Yusuf Al-Makassari

Post Image
Makam Syekh Yusuf Makassar di Cape Town, Afrika Selatan (photo source: dailyasia)

Pada abad ke-17, ketika batas negara modern belum dikenal seperti sekarang, laut bukanlah pemisah. Samudra Hindia menjadi tempat kapal membawa rempah, pedagang membawa barang, ulama membawa pengetahuan, dan para musafir membawa gagasan dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya.

Di tengah jaringan dunia maritim itulah perjalanan Syekh Yusuf Al-Makassari memperoleh makna yang lebih luas. Empat ratus tahun yang lalu, Ia lahir di Gowa, tetapi jejak kehidupannya tidak berhenti di Sulawesi Selatan. Perjalanan menuntut ilmu membawanya ke Banten, Aceh, India, Yaman, Mekah, Madinah dan Damaskus.

Kelak, karena politik kolonial, berlanjut ke Ceylon dan Afrika Selatan. Rangkaian perjalanan itu menjadikan Syekh Yusuf bukan hanya tokoh lokal atau Nusantara. Ia merupakan bagian dari jaringan intelektual dan spiritual yang menghubungkan berbagai masyarakat di sepanjang jalur Samudra Hindia.

Kajian mengenai perjalanan Syekh Yusuf menunjukkan bahwa jaringan perdagangan dan pelayaran Samudra Hindia turut menyediakan jalur bagi terbentuknya jaringan ulama. Pengetahuan agama bergerak mengikuti mobilitas manusia, kapal dan komunitas yang saling terhubung. Syekh Yusuf lahir di Gowa pada 1626.

Ia tumbuh dalam lingkungan kerajaan yang pada masa itu sedang mengalami perkembangan penting dalam kehidupan politik dan keagamaan. Pendidikan agama menjadi fondasi awal kehidupannya. Namun, sebagaimana tradisi keilmuan Islam pada masa itu, belajar tidak selalu berarti duduk di satu tempat.

Seorang pencari ilmu dapat melakukan perjalanan jauh untuk bertemu guru, mendapatkan sanad, mempelajari kitab dan membangun hubungan dengan komunitas keilmuan lainnya. Pada usia muda, belasan tahun, Syekh Yusuf meninggalkan tanah kelahirannya untuk menuntut ilmu. Perjalanan tersebut kelak membentuk jaringan yang jauh lebih luas daripada sekadar hubungan antara guru dan murid.

Dari Makassar ia menuju Banten, kemudian Aceh dan India, sebelum melanjutkan perjalanan ke Yaman dan Haramain. Ia juga belajar di Damaskus. Syekh Yusuf memiliki hubungan dengan sejumlah ulama penting di pusat-pusat keilmuan Islam tersebut. Perjalanan ini penting karena memperlihatkan bahwa Nusantara pada abad ke-17 bukanlah dunia yang terisolasi. Sebaliknya, para ulama Nusantara merupakan bagian dari sirkulasi pengetahuan Islam yang berlangsung lintas kawasan.

Aceh menjadi salah satu simpul penting dalam perjalanan intelektual Syekh Yusuf. Pada pertengahan abad ke-17, Aceh merupakan salah satu pusat Islam penting di kawasan barat Nusantara. Di sana Syekh Yusuf bersentuhan dengan tradisi intelektual yang telah berkembang melalui hubungan dengan Timur Tengah dan kawasan Samudra Hindia. Jaringan semacam itu tidak hanya menghasilkan hubungan keilmuan. Ia juga membentuk jaringan sosial yang kelak dapat menjadi modal penting dalam kehidupan seseorang ketika berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain.

Dari Aceh, perjalanan Syekh Yusuf berlanjut ke India dan kemudian Timur Tengah. Di Yaman, Mekah dan Madinah ia bertemu dengan ulama-ulama yang memiliki jaringan luas. Ia memperoleh pengetahuan agama sekaligus masuk ke dalam mata rantai transmisi ilmu yang menghubungkan Nusantara dengan pusat-pusat keislaman dunia.

Kajian terbaru tentang Syekh Yusuf bahkan melihat jaringan keilmuannya sebagai jaringan pengetahuan yang melampaui batas geografis dan kemudian memiliki konsekuensi sosial-politik. Ketika akhirnya kembali ke Nusantara, modal intelektual dan sosial itu membawanya ke Banten.
Di sana ia bukan sekadar seorang pendatang dari Makassar.

Ia telah menjadi ulama yang mempunyai otoritas keilmuan dan jaringan hubungan yang luas. Kedekatannya dengan Sultan Ageng Tirtayasa kemudian membawa Syekh Yusuf ke lingkungan politik Kesultanan Banten. Ia menjadi bagian dari kehidupan keagamaan dan pemerintahan sekaligus terlibat dalam perjuangan menghadapi VOC. Di sinilah jaringan transnasional bertemu dengan politik lokal.

Ulama sebagai Penghubung Antarwilayah

Kekuatan Syekh Yusuf bukan semata-mata pada wilayah yang pernah ia datangi, tetapi pada hubungan yang terbentuk sepanjang perjalanan tersebut. Seorang murid dari Makassar dapat belajar kepada ulama di Aceh, kemudian berguru di Yaman, Mekah, Madinah dan Damaskus. Setelah kembali ke Nusantara, pengetahuan itu dibawa kepada masyarakat Banten. Dari Banten, pengaruh tersebut kemudian bergerak lagi mengikuti perjalanan hidupnya.

Dengan demikian, perjalanan Syekh Yusuf dapat dibaca sebagai perjalanan ilmu yang sekaligus merupakan perjalanan budaya. Ia membawa tradisi intelektual Islam dari satu ruang budaya ke ruang budaya lain tanpa harus menghapus identitas lokal. Inilah salah satu karakter penting jaringan Islam Nusantara pada masa tersebut: pengetahuan tidak bergerak sebagai sesuatu yang sepenuhnya asing, melainkan berinteraksi dengan tradisi masyarakat tempat ia berkembang.

Penelitian mengenai Syekh Yusuf juga menunjukkan bahwa perjalanan intelektualnya berkaitan erat dengan jaringan Samudra Hindia. Pada 2026, dalam rangka peringatan 400 tahun kelahirannya, para akademisi kembali menempatkan Aceh, India, Yaman, Syria, Mekah dan Madinah sebagai bagian dari peta perjalanan spiritual dan intelektualnya. Karena itu, menyebut Syekh Yusuf hanya sebagai “ulama Makassar” terasa terlalu sempit. Ia memang berasal dari Makassar. Tetapi dunia intelektualnya adalah dunia Samudra Hindia.

Ketika VOC menangkap dan mengasingkannya, perjalanan Syekh Yusuf memasuki babak baru. Ceylon, kini Sri Lanka, bukan sekadar tempat pembuangan. Pulau tersebut berada dalam jaringan pelayaran Samudra Hindia yang menghubungkan berbagai wilayah Asia. Di sana, Syekh Yusuf tetap berhubungan dengan komunitas Muslim dan jaringan pelayaran yang melintas di kawasan tersebut. Karena itu, pengasingan tidak serta-merta menghapus dimensi transnasional dalam kehidupannya.

Arsip VOC sendiri menunjukkan adanya surat Syekh Yusuf dari Ceylon kepada para pengikutnya. Catatan tersebut penting karena memperlihatkan bahwa komunikasi tetap menjadi bagian dari kehidupan pengasingannya. Dengan kata lain, kolonialisme dapat mengontrol tempat tinggal seseorang, tetapi belum tentu mampu mengendalikan seluruh jaringan komunikasi yang hidup di antara masyarakat maritim. Ceylon menjadi salah satu simpul dalam perjalanan itu.

Cape Town: Dari Pengasingan Menjadi Pertemuan Budaya

Pada 1694, Syekh Yusuf bersama keluarga dan para pengikutnya tiba di Cape of Good Hope. Secara politik, kedatangan tersebut merupakan hasil kebijakan VOC untuk menjauhkan dirinya dari jaringan perlawanan di Asia. Arsip Nasional RI mencatat keputusan VOC pada 7 Juli 1693 untuk memindahkan Syekh Yusuf bersama keluarga dan pengikutnya dari Ceylon ke Cape Town.

Namun, sejarah kemudian memberikan makna lain terhadap perjalanan tersebut. Di Cape, Syekh Yusuf bertemu dengan lingkungan sosial yang sangat berbeda dari Nusantara. Masyarakat Muslim di sana terdiri dari orang-orang dengan latar belakang yang beragam, termasuk mereka yang berasal dari wilayah Asia dan dibawa ke Cape dalam sistem kolonial.

Di tengah kondisi tersebut, komunitas yang berkaitan dengan Syekh Yusuf menjadi bagian dari perkembangan awal Islam di Cape. Nama Macassar yang melekat pada kawasan tempat komunitas tersebut berkembang menjadi salah satu pengingat geografis tentang asal-usulnya. Di sinilah perjalanan seorang ulama dari Gowa berubah menjadi bagian dari sejarah masyarakat Afrika Selatan.

Budaya tidak lagi bergerak satu arah. Ia mengalami perjumpaan. Tradisi Islam Nusantara bertemu dengan masyarakat Cape. Bahasa, praktik keagamaan, ingatan tentang tanah asal dan hubungan antarkomunitas kemudian menjadi bagian dari identitas baru yang berkembang di lingkungan tersebut.

Inilah yang dapat dibaca sebagai bentuk awal diplomasi budaya non-negara. Bukan diplomasi yang dilakukan oleh kementerian luar negeri atau melalui perjanjian antarnegara, melainkan diplomasi yang berlangsung melalui manusia, agama, pendidikan, komunitas dan kebudayaan.
Istilah diplomasi budaya memang merupakan konsep modern. Karena itu, tidak tepat menyebut Syekh Yusuf sebagai “diplomat” dalam pengertian pejabat negara.

Namun, jika diplomasi budaya dipahami sebagai kemampuan membangun hubungan dan saling pengaruh melalui pengetahuan, agama dan kebudayaan, perjalanan Syekh Yusuf memberikan contoh menarik. Ia membawa pengalaman Nusantara ke dunia luar. Pada saat yang sama, ia menyerap pengetahuan dari berbagai pusat Islam dunia dan membawanya kembali ke Nusantara hingga terjadi pertukaran.

Makassar tidak hanya menerima pengaruh dari luar. Makassar juga mengirimkan seorang ulama yang kemudian meninggalkan jejak di berbagai belahan dunia. Jejak itu semakin jelas ketika melihat bagaimana nama Syekh Yusuf kemudian menjadi bagian dari hubungan Indonesia dan Afrika Selatan.

Pada 2005, pemerintah Afrika Selatan memberikan penghargaan Order of the Companions of O.R. Tambo secara anumerta kepada Syekh Yusuf. Penghargaan tersebut menempatkan warisannya dalam sejarah perjuangan melawan kolonialisme dan penindasan di Afrika Selatan. Hubungan itu terus hidup hingga masa kini.

Pada 2026, bertepatan dengan peringatan 400 tahun kelahiran Syekh Yusuf, Indonesia kembali menggunakan warisannya sebagai jembatan budaya dengan Afrika Selatan. KJRI Cape Town ikut mendukung Kramat Festival di Macassar, Cape Town, yang menghadirkan seni tari, musik, kuliner, film dan informasi kebudayaan Indonesia. Menariknya, bentuk-bentuk kebudayaan yang ditampilkan bukan sekadar pertunjukan.

Di dalamnya terdapat memori sejarah. Nama Macassar, warisan Syekh Yusuf, Komunitas Muslim Cape dan hubungan panjang antara Indonesia dengan Afrika Selatan. Dengan demikian, warisan Syekh Yusuf yang dahulu terbentuk melalui perjalanan ulama dan komunitas kini dapat menjadi instrumen hubungan antarbangsa. Syekh Yusuf tidak pernah membayangkan bahwa berabad-abad setelah kematiannya, namanya akan menjadi bagian dari hubungan budaya Indonesia dan Afrika Selatan. Perjalanan hidupnya menciptakan sesuatu yang dalam konteks sekarang dapat dibaca sebagai jembatan budaya.

Empat abad setelah kelahirannya, jejak Syekh Yusuf mengajarkan bahwa dunia telah lama terhubung sebelum istilah globalisasi dikenal. Dan sering kali, yang membuat hubungan itu bertahan bukan kekuatan negara, melainkan manusia yang membawa nilai, pengetahuan dan kebudayaan dari satu tempat ke tempat lainnya.