Dari Makassar ke Tanjung Harapan: Jejak Perlawanan Syekh Yusuf Al-Makassari

Post Image
Patung ulama dan sufi bergelar Tuanta Salamaka, Pahlawan Nasional Syekh Yusuf al-Makassari di Anjungan Pantai Losari Kota Makassar, Sulawesi Selatan. (dok:kosongsatu.id)

Sepasang kaki renta bersandal melangkah berat menaiki tangga kapal. Pada usia sekitar 68 tahun, ia telah berkali-kali dipindahkan oleh kekuasaan kolonial VOC, semakin jauh dari tanah yang dicintainya. Tapi tak ada yang menyangka bahwa perjalanan laut Syekh Yusuf Al-Makasari kali ini akan dikenang sampai ratusan tahun kedepan.

Pada 7 Juli 1693, VOC mengambil keputusan untuk memindahkan Syekh Yusuf dari Ceylon, saat ini Sri Lanka ke Cape of Good Hope di Benua Afrika. Hampir sembilan bulan kemudian, pada 2 April 1694, kapal De Voetboeg tiba di Tanjung Harapan dengan membawa Syekh Yusuf bersama rombongan 49 orang. Mereka terdiri atas keluarga, pengikut dan para ulama yang tetap memilih mendampinginya.

Bagi VOC, pemindahan itu merupakan strategi untuk mengisolasi seorang tokoh yang dianggap berbahaya. Jarak geografis diharapkan mampu memutus hubungan Syekh Yusuf dengan masyarakat Nusantara sekaligus meredam pengaruhnya. Tetapi justru di sinilah ironi muncul: semakin jauh ia dibuang, semakin luas jejak yang ditinggalkannya.

Syekh Yusuf lahir di lingkungan bangsawan Gowa pada 1626. Masa mudanya diisi dengan perjalanan menuntut ilmu yang membawanya ke berbagai pusat keislaman di Nusantara dan Timur Tengah. Ia belajar di Aceh, Banten, kemudian melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke Yaman, Damaskus, Mekah dan Madinah.

Dalam perjalanan tersebut, ia mendalami ilmu agama dan tasawuf serta membangun jaringan keilmuan yang kelak memiliki arti penting dalam kehidupannya. Ketika kembali ke Nusantara, keadaan politik telah berubah. Gowa mengalami kekalahan dalam perang melawan VOC dan Perjanjian Bongaya 1667 mempersempit ruang politik kerajaan.

Syekh Yusuf kemudian menetap di Banten dan dekat dengan Sultan Ageng Tirtayasa. Di tengah meningkatnya campur tangan VOC dalam urusan Banten, posisi Syekh Yusuf tidak berhenti sebagai ulama istana. Ia ikut berada dalam barisan yang mempertahankan kedaulatan Banten. Ketika konflik antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji berkembang menjadi perang terbuka dengan dukungan VOC kepada Sultan Haji, Syekh Yusuf turut memimpin perlawanan. Ia terlibat dalam pertempuran dan gerilya bersama pasukan Banten. Arsip VOC yang dihimpun Arsip Nasional RI juga mencatat pengerahan pasukan untuk menghadapi perlawanan yang dipimpin Syekh Yusuf dan para pendukungnya.

Di titik ini, perjuangan Syekh Yusuf memperlihatkan dua wajah yang saling melengkapi. Perlawanan fisik terhadap kolonialisme dan perlawanan intelektual-spiritual terhadap nilai-nilai kolonial. Setelah tertangkap pada 1683, VOC memilih pengasingan daripada membiarkannya tetap berada di tengah masyarakat Nusantara. Ia dibuang ke Ceylon, wilayah yang kini dikenal sebagai Sri Lanka. VOC berharap jarak akan mengakhiri perlawanan. Namun perhitungan itu ternyata keliru.

Ceylon, Pengasingan yang Berubah Menjadi Jaringan Ilmu

Di Ceylon, Syekh Yusuf meski menjadi tahanan tidak berhenti berkarya. Ia tetap mengajar, menulis dan menjalankan aktivitas keagamaannya. Ditempat pengasingannya justru menjadi persinggahan spiritual bagi para pencari ilmu. Jemaah haji asal Nusantara rela mengubah perjalanan mereka demi menemuinya, meminta nasihat, dan belajar langsung darinya. Melalui kabar yang beredar di antara para pelaut dan pedagang, juga lewat pesan-pesan tertulis yang berpindah tangan, pengaruh Syekh Yusuf menjangkau Nusantara.

Pengasingan, dengan demikian, tidak lagi sekadar persoalan geografis. Ia berubah menjadi persoalan jaringan. VOC dapat menguasai pelabuhan, kapal dan wilayah, tetapi tidak mudah menguasai arus pengetahuan. Gagasan bergerak melalui manusia, perjalanan dan hubungan keagamaan. Kajian mengenai pemikiran Syekh Yusuf bahkan menunjukkan bahwa jaringan pengetahuan yang ia bangun memiliki dimensi politik. Ajaran tasawufnya tidak berdiri terpisah dari sikapnya terhadap ketidakadilan dan kekuasaan kolonial. Keteguhan spiritual menjadi salah satu sumber keberaniannya dalam menghadapi dominasi VOC.

Karena itu, ketika keberadaannya di Ceylon masih dianggap memungkinkan pengaruhnya menjangkau Nusantara, VOC mengambil langkah lebih ekstrem: Syekh Yusuf harus dipindahkan lebih jauh lagi. Tujuannya Cape of Good Hope, di ujung selatan Afrika. Pada 2 April 1694, rombongan Syekh Yusuf tiba di Cape. VOC kemudian menempatkan mereka di Zandvliet, jauh dari pusat Cape. Strateginya jelas: mengisolasi Syekh Yusuf dari komunitas yang berpotensi menjadi jaringan baru. Namun, sejarah kembali memperlihatkan hasil yang berbeda dari rencana kolonial.

Zandvliet justru berkembang menjadi salah satu titik penting dalam sejarah awal komunitas Muslim di Cape. Kawasan itu kemudian dikenal sebagai Macassar, nama yang mengabadikan asal-usul sebagian komunitas yang mengikuti Syekh Yusuf. Sumber sejarah Afrika Selatan mencatat bahwa tempat tersebut juga menjadi titik berkumpul bagi para budak yang melarikan diri dan orang-orang buangan dari kawasan timur.

Di tanah yang sangat jauh dari Gowa itu, bentuk perjuangan Syekh Yusuf mengalami perubahan. Ia tidak lagi memimpin pasukan di hutan-hutan Banten tapi membangun komunitas. Tidak lagi berada di tengah perang terbuka namun Ia menjaga agama, identitas dan martabat manusia. Di tengah masyarakat kolonial yang mengenal perbudakan, Syekh Yusuf dan para pengikutnya membangun kehidupan keagamaan yang menjadi tempat bertemunya orang-orang dari berbagai latar belakang.

Arsip Nasional RI mencatat bahwa selama pengasingan di Afrika Selatan, Syekh Yusuf tetap menyebarkan Islam, membangun komunitas Muslim dan memberikan perlindungan kepada orang-orang yang mengalami perbudakan. Inilah salah satu bentuk resiliensi yang paling penting dalam perjalanan hidupnya. Ketika tidak lagi mampu mengubah kekuasaan dengan senjata, ia membangun manusia yang tidak mudah ditundukkan. 

Melawan Kolonialisme dengan Menjaga Martabat 

Perlawanan terhadap kolonialisme sering kali dibayangkan sebagai pertempuran bersenjata. Padahal, kolonialisme juga bekerja melalui penghancuran identitas, pemisahan komunitas dan penempatan manusia dalam hierarki yang ditentukan oleh kekuasaan. Dalam konteks inilah keberadaan Syekh Yusuf di Cape memperoleh makna yang lebih luas. Ia mempertahankan ajaran, membangun komunitas dan menjaga jaringan sosial di tengah lingkungan kolonial. Agama menjadi ruang untuk mempertahankan identitas sekaligus membangun solidaritas.

Kajian tentang pemikiran Syekh Yusuf menunjukkan bahwa konsep keagamaannya, termasuk hubungan antara syariat, hakikat, zikir dan kedekatan kepada Tuhan membentuk pandangan hidup yang tidak mudah ditundukkan oleh tatanan kolonial. Perlawanan itu tidak selalu hadir dalam bentuk pernyataan politik tapi juga hadir melalui cara manusia mempertahankan nilai, keyakinan dan martabatnya. Dengan cara itu, pengasingan justru menghasilkan paradoks. VOC ingin menjadikan Syekh Yusuf seorang tokoh yang terputus dari dunia. Namun Syekh Yusuf justru menjadi penghubung antara dunia-dunia yang dipisahkan oleh kolonialisme.

Syekh Yusuf wafat di Zandvliet, dekat Cape Town, pada 23 Mei 1699. Ia tidak pernah kembali hidup-hidup ke Makassar namun, gagasan dan komunitas yang dibangunnya tidak ikut dikuburkan. Nama Macassar tetap hidup di Afrika Selatan. Makamnya di Faure menjadi tempat yang terus diziarahi. Di Indonesia, namanya juga tetap hidup dalam ingatan masyarakat dan sejarah perjuangan melawan kolonialisme.

Jejak tersebut menunjukkan bahwa pengasingan tidak selalu berakhir dengan hilangnya seseorang dari sejarah. Pengasingan dapat membuat sebuah gagasan berpindah tempat, menemukan masyarakat baru, lalu tumbuh dalam bentuk yang tidak pernah dibayangkan oleh penguasa yang mengasingkannya.

Pengaruh Syekh Yusuf kemudian memperoleh pengakuan lintas negara. Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 1995. Di Afrika Selatan, ia dianugerahi secara anumerta Order of the Companions of O.R. Tambo in Gold pada 27 September 2005 atas kontribusinya dalam perjuangan melawan kolonialisme. Pemerintah Afrika Selatan juga mengenang Syekh Yusuf sebagai pejuang kemerdekaan yang menjadi bagian dari sejarah Islam dan perjuangan melawan penindasan. 

Resiliensi yang Melampaui Pengasingan 

Kisah Syekh Yusuf pada akhirnya bukan hanya kisah tentang seorang ulama yang dibuang VOC dari satu tempat ke tempat lain. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia menghadapi kekuasaan yang berusaha menentukan di mana ia boleh hidup, dengan siapa ia boleh berhubungan, dan sejauh mana pengaruhnya boleh menjangkau. VOC menguasai wilayah, menguasai jalur pelayaran, memiliki kekuatan militer.Tetapi VOC tidak pernah sepenuhnya mampu menguasai keyakinan dan gagasan Syekh Yusuf.

Di Banten, ia melawan dengan senjata. Di Ceylon, ia mempertahankan perjuangan melalui ilmu dan jaringan. Di Cape, ia membangun komunitas. Bentuknya berubah, tetapi prinsipnya tetap sama: menolak tunduk pada ketidakadilan. Di situlah letak resiliensi Syekh Yusuf. Resiliensi bukan sekadar kemampuan bertahan dari penderitaan. Ia adalah kemampuan mengubah keadaan yang dipaksakan menjadi ruang untuk tetap berkarya. Pengasingan yang dimaksudkan sebagai hukuman berubah menjadi kesempatan membangun pusat kehidupan Islam baru. Jarak yang dirancang untuk memutus hubungan justru membuka jaringan baru. Tanah asing yang seharusnya menjadi tempat berakhirnya pengaruh malah menjadi tempat lahirnya warisan yang bertahan berabad-abad.

Syekh Yusuf memperlihatkan bahwa kolonialisme dapat menguasai tubuh dan ruang, tetapi tidak selalu mampu menaklukkan gagasan. Dari Makassar ke Banten, dari Ceylon ke Tanjung Harapan, perjalanan hidupnya memperlihatkan satu garis konsisten. Perlawanan terhadap kolonialisme tidak selalu berhenti ketika seseorang kehilangan kebebasan. Terkadang perlawanan justru menemukan bentuknya yang paling kuat ketika seorang manusia tidak lagi memiliki pilihan selain bertahan.

Dan di tanah pengasingan itulah Syekh Yusuf menunjukkan bahwa mempertahankan keyakinan, membangun komunitas dan menjaga martabat manusia dapat menjadi bentuk perlawanan yang jauh lebih panjang daripada usia seorang pejuang. Laut telah membawanya jauh dari Makassar. Tetapi laut tidak pernah berhasil membawa pergi semangatnya.