Hanya karena abu rokok mengenai wajah, seorang guru harus pulang dengan kepala bocor. Muhammad Afdal, guru PJOK SDN 017 Balikpapan Timur, tak pernah menyangka teguran sederhana berubah jadi mimpi buruk.
Siang itu, ia melihat siswa berseragam merokok sambil berkendara. Ia menegur. Siswa itu melawan dengan nada menantang. Afdal memilih pergi, menghindari keributan. Tapi tiga siswa, orang tua, dan seorang paman diduga membuntutinya sampai ke depan rumahnya sendiri.
Ia mencoba berdamai, menjelaskan bahwa dirinya hanya menegur, tak pernah memukul. Namun tuduhan sepihak sudah terlanjur menyulut amarah keluarga siswa.
Rumah yang harusnya jadi tempat paling aman, justru jadi lokasi ia dikeroyok oleh orang-orang yang seharusnya percaya penjelasannya.
Menegur kesalahan kini punya harga: darah seorang guru.
