5 Nyawa Melayang , Negara Habiskan Rp 1 Triliun untuk Latih Manajer Koperasi Jadi Tentara!?

Mereka daftar jadi manajer koperasi desa. Yang mereka dapat: baris-berbaris, latihan fisik berat... dan lima di antaranya pulang dalam peti mati.

Yonanda. Anisa. Novia. Dan dua nama lain. Semua mendaftar program Koperasi Desa Merah Putih, niatnya mengelola usaha desa, bukan medan tempur. Tapi dari 45 hari pelatihan, 30 harinya adalah latihan militer penuh.

Heat stroke. Henti jantung. Tuberkulosis. Lima nyawa melayang sebelum mereka sempat menyentuh satu pun buku koperasi.

Anggota Komisi I DPR, Mayjen TNI (Purn.) TB Hasanuddin, buka data: dari Rp45 juta anggaran per peserta, Rp30 juta, dua pertiga mengalir ke latihan kemiliteran yang tak ada hubungannya dengan tugas mereka kelak: mengelola keuangan, pemasaran, usaha desa.

Dikalikan 35.476 peserta, negara menggelontorkan lebih dari Rp1 triliun untuk melatih warga sipil seolah mereka calon prajurit, bukan calon manajer.

Koperasi desa butuh orang yang paham neraca, bukan baris-berbaris. Tapi ironinya, di negeri ini, militerisasi selalu lebih mudah dianggarkan ketimbang kompetensi. Lima nyawa jadi tumbal sebuah program yang salah sasaran dari awal.