Bagaimana kalau perusahaan terbesar negara sesak napas?” Dalam satu tahun, triliunan rupiah di Telkom seperti menguap. Dan sekarang, kursi paling panas itu mulai digoyang. Setelah Dian Siswarini memimpin Telkom, angka yang jadi simbol kekuatan berubah jadi alarm bahaya.
Pendapatan turun Rp2,6 triliun. Laba bersih menyusut Rp2,1 triliun. Kas perusahaan terkikis. Deposito merosot. Center for Budget Analys (CBA) menyebut ini bukan sekadar fluktuasi bisnis tapi fondasi Telkom mulai keropos.
Tekanan datang, publik bertanya: siapa yang sebenarnya memegang kendali? Di balik gedung megah dan sinyal internet yang tak pernah tidur, ada ketegangan tak terlihat. Tapi bagian pentingnya bukan soal rugi triliunan. Melainkan kenyataan bahwa ini baru tahun pertama. Dan jika arah kapal tetap sama mungkin masalah terbesar Telkom baru dimulai.
