Kedengarannya hebat tapi apakah realistis? Pernyataan Prabowo Subianto soal kemungkinan Indonesia berhenti impor BBM langsung jadi sorotan. Masalahnya, data berbicara lain. Kebutuhan BBM nasional saat ini mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari.
Sementara produksi minyak dalam negeri… hanya di kisaran 600 ribu barel per hari. Artinya? Lebih dari 60% kebutuhan masih bergantung pada impor. Belum lagi kapasitas kilang dalam negeri yang terbatas. Banyak minyak mentah justru harus dikirim keluar negeri untuk diolah, lalu diimpor kembali dalam bentuk BBM siap pakai.
Di sisi lain, lifting minyak Indonesia terus turun selama lebih dari satu dekade. Target 1 juta barel per hari… belum pernah benar-benar tercapai. Jadi ini bukan sekadar soal berhenti impor.
Ini soal kesiapan sistem energi yang belum siap mandiri. Karena di balik mimpi besar Indonesia masih terikat pada realita: produksi kurang, konsumsi terus naik. Dan jika strategi tak berubah yang berhenti bukan impor tapi stabilitas energi itu sendiri.
