Baru saja dibuka… sekarang ditutup lagi. Dan kali ini, alasannya lebih berbahaya. Selat Hormuz kembali ditutup setelah serangan Israel ke Lebanon memicu eskalasi baru di Timur Tengah.
Iran langsung bereaksi keras menghentikan pergerakan kapal sebagai tekanan geopolitik. Jalur yang mengalirkan sekitar 20% minyak dunia ini kembali lumpuh. Dampaknya?
Lebih dari ratusan hingga 800 kapal dilaporkan tertahan di kawasan Teluk, menunggu kepastian jalur aman. Di tengah situasi itu, dua tanker Pertamina masih berada di wilayah Teluk Arab.
Belum bisa melintas. Tapi dipastikan masih dalam kondisi aman sambil menunggu hasil negosiasi. Ironisnya, sempat ada harapan. Jalur dibuka sementara lewat gencatan senjata namun kembali ditutup hanya dalam hitungan jam karena konflik melebar ke Lebanon. Ini bukan lagi soal Iran vs Amerika.
Ini efek domino di mana satu serangan di Lebanon bisa menghentikan minyak dunia. Dan bagi Indonesia, satu jalur sempit itu bukan sekadar peta tapi denyut nadi energi nasional
