Bagaimana jika perang dunia berikutnya tidak dimulai dengan bom tapi dengan satu kalimat? Donald Trump baru saja membuktikan itu mungkin.
Dalam sebuah pernyataan keras, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyindir Iran yang menolak negosiasi damai. Ia menuduh para pemimpin Teheran sebenarnya ingin berbicara, tapi takut pada rakyatnya sendiri. Kalimat itu menyebar cepat lebih cepat dari rudal mana pun.
Di saat yang sama, militer Amerika meningkatkan kesiagaan di Timur Tengah. Pesan Trump jelas: jika diplomasi gagal, tekanan akan ditingkatkan. Iran pun membalas dingin. Mereka menyangkal negosiasi dan menegaskan tidak akan tunduk pada tekanan asing.
Dunia menonton. Pasar global gelisah. Sekutu bersiap membaca arah angin politik. Karena sejarah menunjukkan, konflik besar sering diawali bukan oleh tembakan tapi oleh ego yang saling menolak mundur.
Mungkin ini bukan soal siapa benar atau salah. Tapi tentang dua kekuatan besar yang sama-sama ingin terlihat kuat bahkan jika dunia harus ikut menanggung tegangnya.
Dan ironinya, semakin keras para pemimpin berbicara tentang perdamaian semakin banyak negara diam-diam bersiap menghadapi kemungkinan sebaliknya.
