Menjelaskan IHSG rontok memakai contoh saham GOTO adalah yang termudah bagi saya.
Pangkalnya adalah peringatan MSCI (Morgan Stanley Capital International) mengenai transparansi pemegang saham publik (free float). Selama ini tidak jelas identitas siapa saja yang biasanya cukup ditulis sebagai pemegang saham di bawah 5%.
Sebagai penyedia jasa indeks, wajar MSCI berlaku demikian. Setidaknya empat kali setahun mereka melakukan penyesuaian (rebalancing) pada Februari (pengumuman 10 Februari 2026, berlaku 2 Maret 2026), Mei, Agustus, dan November.
Fund manager global BlackRock adalah pengguna indeks MSCI. Mereka punya produk Exchange Traded Fund (ETF) yang khusus mengoleksi saham Indonesia: iShares MSCI Indonesia ETF (EIDO), diperdagangkan di bursa New York. Salah satu basis penentuannya berdasarkan berapa banyak komposisi free float suatu saham (semakin banyak dianggap bagus karena likuid).
Saya kutip Yahoo Finance (2/2/2026), total aset EIDO USD 362,24 juta (Rp5 triliun lebih). Top 10 saham Indonesia yang menguasai hampir 60% aset EIDO adalah BBCA (17,42%), BBRI (9,86%), BMRI (7,59%), TLKM (6,32%), ASII (3,97%), DSSA (3,57%), AMMN (3,32%), BRMS (2,84%), BBNI (2,71%), dan GOTO (2,41% atau setara 2,29 miliar lembar).
Jadi isi EIDO adalah copy-paste indeks MSCI. Itulah kenapa orang berlomba-lomba supaya sahamnya masuk MSCI yang kemudian dikoleksi EIDO. Dengan demikian barang mereka akan diserap klien-klien BlackRock (ini dilakukan otomatis) seperti dana pensiun global, dll. Masuk MSCI/EIDO berarti buy, keluar sell!
Di antara saham-saham dalam keranjang EIDO, GOTO adalah yang free float-nya paling banyak. Saya kutip data BEI per 31 Desember 2025 yang menunjukkan kepemilikan masyarakat (di bawah 5%) sebanyak 1,01 triliun lembar atau setara 84,919% (hampir 85%). Sisanya dikuasai Alibaba dan Softbank. Volume transaksi harian GOTO juga miliaran. Per status dibuat (2/2/2026), transaksi GOTO mencapai 4,8 miliar lembar.
Pendeknya, di mata algoritma MSCI/EIDO, lapak GOTO ini dipenuhi banyak orang yang melakukan aktivitas jual-beli. Barangnya laku, peminatnya banyak, karya anak bangsa pula.... Kira-kira begitu framing-nya!
Sejak dibanting ke harga 80-an pada Desember 2022 (setelah sempat mengudara sampai Rp440) dan menyebabkan Telkom mencatatkan kerugian (impairment) sampai Rp7 triliun ketika itu (akibat turunnya nilai investasi Telkomsel yang beli GOTO di harga Rp270) sampai saat ini harga GOTO segitu-segitu saja (sekarang Rp60-an).
Artinya, banyak transaksi tapi harga segitu-segitu saja. Makanya orang curiga: jangan-jangan itu cuma transaksi antar-akun nominee yang dikendalikan satu pihak supaya lapak kelihatan ramai dan bandar hanya modal fee transaksi untuk para broker. Transaksi ada tapi sebetulnya tidak mengubah kendali atas kepemilikan.
Kalau cara mainnya begitu, orang patut menduga kuat adanya manipulasi pasar: dugaan transaksi semu yang memberikan gambaran palsu dan kemungkinan penentuan harga yang sudah dikondisikan oleh pihak-pihak tertentu.
Karena sifatnya yang paketan itu, maka kalau ada kelakuan busuk dari satu anggota EIDO akan berpengaruh pada kinerja EIDO secara keseluruhan. Jika klien-klien BlackRock merasa risau dengan isu transparansi free float ini, mereka tidak akan cuma buang saham GOTO tapi buang sekeranjang-keranjangnya sekalian. Itu artinya mereka akan jual juga saham BBCA, BBRI, TLKM dkk. Karena saham-saham itu punya market cap dan bobot besar terhadap IHSG, maka hal itu akan merontokkan IHSG secara langsung.
Terserahlah orang bicara pasar modal dan analisa saham yang ribet-ribet. Intensi saya tidak ke situ. Saya bukan influencer saham. Saya cuma ingin misteri 85% pemegang saham GOTO yang katanya masyarakat/publik itu dibongkar. Jangan biarkan mereka nyaman sebagai hantu. Tunjukkan identitas mereka sejelas-jelasnya, buka log book-nya, siapa yang sesungguhnya mengendalikan akun-akun mereka, apa saja perangkat yang mereka pakai, apakah dari IP Address (lokasi) yang sama.... Ini merupakan area yang seharusnya dimasuki penyidik Otoritas Jasa Keuangan (OJK)---berdasarkan aturan terbaru dalam UU P2SK, pelaku manipulasi pasar kini diancam pidana penjara maksimal 15 tahun dan denda hingga Rp150 miliar.
Tak usah kita ajari, jika kelak terbukti 85% pemegang saham GOTO yang katanya masyarakat/publik itu isinya ternyata banyak hantunya, maka sudah pasti GOTO bakal didepak oleh MSCI dan gigit jari kehilangan pembeli strategis globalnya.
Memberantas para bos pengendali hantu-hantu di pasar modal seperti itu saya pikir bolehlah dibilang sebagai perwujudan perang terhadap oligarki yang kini dikumandangkan Presiden Prabowo Subianto.
Saya mendukung!
Salam,
AEK
