Suku Anak Dalam di Pusaran Kasus Bilqis: Penolong, Penadah, atau Kambing Hitam?

Kasus penculikan Bilqis berubah jadi panggung besar yang menyeret Suku Anak Dalam—komunitas adat yang tiba-tiba distempel sebagai tempat aman bagi barang-barang hasil kejahatan.

Narasi miring Suku Anak Dalam melekat: katanya mereka kebal hukum, sering jadi tempat motor curian berlabuh, tuduhan yang sudah lama berulang, tapi tak pernah tuntas dibuktikan. Belakang juga muncul stigma penadah anak terkait kasus Bilqis.

Tapi fakta kasus Bilqis berkata lain. Pemimpin mereka, Tumenggung Joni, justru mengaku ditipu sindikat penculik. Bilqis dibawa dengan cerita sedih palsu: katanya anak yatim piatu yang butuh ditolong.

Pendamping hukum menegaskan: Suku Anak Dalam bukan komplotan, mereka korban manipulasi. Bahkan mereka membayar mahal untuk ‘mengasuh’ Bilqis—bukan menculik, tapi tertipu drama kejahatan yang jauh lebih rapi dari sinetron.

Inilah pro-kontranya: satu sisi publik yakin ini skema lama—kelompok adat jadi penadah. Di sisi lain, fakta menunjukkan SAD berkali-kali dijadikan kambing hitam karena minim akses hukum dan komunikasi.

Pertanyaannya: siapa predator sesungguhnya? Orang rimba… atau para pemain kota yang paham hukum tapi lihai bersembunyi di baliknya? Coba kalau menurut netizen bagaimana?