Menyoal Diplomasi Meja Makan Jokowi

Minggu, 27 November 2016, 15:00:58 WIB - Politik

Presiden Joko Widodo makan bersama mantan Presiden Megawati Soekarnoputeri, di istana Merdeka, Jakarta, Senin (21/11). Presiden Jokowi juga melakukan pertemuan empat mata dengan Presiden RI periode 2001-2004 tersebut di teras belakang istana Merdeka. (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Seminggu belakangan, Presiden Joko Widodo menggelar sejumlah pertemuan dengan pimpinan partai politik. Nama-nama elit seperti Megawati Soekarnoputri, Surya Paloh, Romahurmuziy, hingga Setya Novanto tercatat secara berturut-turut diundang Jokowi ke Istana Negara. Sebelum diundang pimpinan partai koalisi pendukung, Prabowo Subianto juga lebih dulu diundang oleh Jokowi. Hingga muncul sebutan sebagian kalangan undangan Jokowi itu sebagai "Diplomasi Meja Makan.

Menanggapi langkah-langkah Jokowi itu, pimpinan Rumah Amanah Rakyat Ferdinand Hutahaean justru menilai, diplomasi meja makan yang dilakukan itu sebagai sebuah blunder. Pasalnya, alih-alih meredakan tensi panas politik, khususnya di ibukota. Diplomasi meja makan disebut Ferdinand tidak menyelesaikan apa-apa.

Terlebih berkaitan dengan rencana aksi demo Bela Islam III yang bakal digelar 2 Desember mendatang. Ferdinand melihat komunikasi politik yang dilakukan Jokowi akhir-akhir ini sarat ambisi pribadi.

"Diplomasi politik yang dilakukan Presiden Jokowi akhir-akhir ini di meja makan sangat tidak patut," kata Ferdinand, di bilangan Utan Kayu, Jakarta, Jumat (25/11).



Menurutnya, keberhasilan Jokowi meredam para demonstran Pasar Klewer saat dirinya menjabat sebagai walikota Kota Solo beberapa tahun lalu memang layak diapresiasi. Namun hal itu tidak bisa disamakan dalam konteks menyelesaikan masalah-masalah bangsa dan perpolitikan saat ini.

"Ketika beliau mau menertibkan Pasar Klewer dan mengundang para demonstran untuk makan, okelah, itu layak dilakukan kepada rakyat. Namun sekarang, apakah Pak Jokowi menganggap ketua-ketua partai politik yang diajak makan itu sama dengan demonstran kaki lima yang masalahnya dijamin bisa selesai sehabis diajak makan? Itu blunder," ujarnya.

Menurut Ferdinand, ada dua hal yang menyebabkan diplomasi meja makan menjadi blunder. Pertama adalah soal etika, kedua, tidak menyelesaikan masalah utama. Ferdinand menggarisbawahi bahwa ruang makan masyarakat Indonesia selalu berada di bagian dalam atau belakang. Secara filosofis, hal demikian menunjukkan bahwa urusan meja makan adalah urusan domestik yang tidak patut diumbar ke publik.

Ferdinand menambahkan, mempertontonkan meja makan dengan segala kemewahannya kepada masyarakat adalah sebuah ironi manakala di saat bersamaan masih banyak rakyat yang tidak bisa makan rutin setiap hari.

"Coba bayangkan, misalnya peristiwa itu ditonton anak jalanan, apakah hal itu tidak mencabik-cabik perasaan mereka? Itu contoh paling kecilnya," kata Ferdinand kepada gresnews.com.

Meski demikian, Ferdinand menganggap hal itu hanya bagian kecil dari kesalahan strategi diplomasi meja makan. Menurutnya, hal paling fatal dari diplomasi meja makan adalah urusannya dengan persoalan bangsa. "Diplomasi meja makan itu tidak menyelesaikan masalah," katanya.

Menurutnya, alih-alih meredam tensi massa, diplomasi meja makan justru lebih terkesan sebagai upaya keras sang kepala negara untuk menjaga dan melanggengkan kekuasaannya.

"Kalau presiden ingin menyelesaikan masalah, tentu presiden harusnya mengajak bertemu orang-orang atau tokoh-tokoh yang menjadi episentrum gerakan 212 mendatang. Bukan mengajak makan orang lain seperti ketua-ketua parpol itu," katanya.

Ia menambahkan, alasan logis di balik undangan makan terhadap sejumlah ketua parpol itu lantaran Jokowi menyadari angin politik saat ini tidak berpihak kepadanya. "Presiden tahu, bahwa dia bisa digoyang di DPR dan diturunkan lewat Sidang Istimewa," ujarnya.

Ferdinand juga menjelaskan, bukti bahwa diplomasi meja makan gagal dilakukan Jokowi terkait aksi 212 bisa dilihat pada kondisi belakangan ini. "Fakta di lapangan, dengan segala upaya yang dilakukan Presiden, suhu politik di Jakarta tidak menjadi dingin dan sejuk, tetapi malah semakin panas. Artinya, diplomasi dan survei yang dilakukan Presiden, juga resep yang dia berikan, tidak tepat. Itulah mengapa saya katakan bahwa diplomasi meja makan adalah upaya menyelamatkan dirinya sendiri," ungkapnya.


Baca selanjutnya: 1 2 3

Komentar