Liatnya Pengembangan Industri Turunan Sawit

Senin, 20 Maret 2017, 17:31:00 WIB - Ekonomi

Truk truk sawit antri di depan pabrik sawit di Muko-muko, Bengkulu. (ANTARA)


PROGRAM HILIRISASI - Program hilirisasi industri kelapa sawit sebenarnya telah dicanangkan Kementerian Perindustrian sejak 2010 lalu. Namun progress dari hilirisasi ini tidak berjalan dengan baik. Industri sawit yang terus meningkat, namun lebih banyak mengalir untuk ekspor dan belum diimbangi dengan serapan untuk produk hilirnya. Akibatnya yang meningkat adalah ekspor CPO. Saat ini sekitar 50% minyak sawit dunia berasal dari Indonesia.

Saat ini kita baru sukses menaikkan produksi minyak goreng serta hanya sedikit untuk oleochemical dan oleo food. Padahal, masih banyak produk turunan lainnya yang lebih menjanjikan nilai jualnya. Seperti, surfactant, pelumas, biofuel, dan deterjen.

Alasan masih rendahnya serapan industri hilir di kelapa sawit. Karena minimnya dana dan penguasaan teknologi untuk industri turunan sawit. Sehingga salah satu salah satu solusinya adalah kita harus undang sebanyak mungkin investor asing untuk masuk ke industri hilir CPO.

Hanya saja permasalahannya pemodal asing atau PMA belum cukup yakin dengan prospek pengembangan industri hilir minyak sawit. Salah satunya karena faktor kendala klasik yang juga dihadapi investor di bagian hulu minyak sawit, yakni kepastian hukum, keamanan dan kenyamanan berusaha, serta infrastruktur yang ada.


Padahal program hilirisasi industri muaranya, adalah penciptaan nilai tambah devisa, memperkuat struktur industri, serta penciptaan lapangan kerja dan kesempatan berusaha di Indonesia. Untuk itu harus ada pemecahan masalah hambatan hambatan tersebut.

Selain itu, juga harus ada pemberian fasilitas tax holiday untuk investasi tertentu bagi pendirian pabrik-pabrik yang memproduksi produk turunan CPO. Jadi Indonesia tidak bisa puas hanya menjadi raja minyak nabati dunia, jika tak menguasai industri turunannya.


Baca selanjutnya: 1 2 3

Komentar