Liatnya Pengembangan Industri Turunan Sawit

Senin, 20 Maret 2017, 17:31:00 WIB - Ekonomi

Truk truk sawit antri di depan pabrik sawit di Muko-muko, Bengkulu. (ANTARA)


PELUANG INDONESIA - Peluang pengembangan industri turunan sawit itu juga disampaikan Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Mohamad Hekal. Menurut Hekal, Kementerian Perindustrian harus membaca peluang untuk mengembangkan industri kelapa sawit agar pemerintah tidak berhenti pada ekspor dalam bentuk CPO.

Bahkan menurutnya, dulu pemerintah pernah membuat industri olahannya menjadi biosolar. Namun karena harga minyak dunia anjlok, kemudian pengelolaannya biosolar menjadi tidak visible lagi.

Kendati demikian, imbuh Hekal, hasil minyak sawit juga bisa dikembangkan menjadi campuran baik biodesel, sabun bahkan menjadi vitamin. Hanya saja dibutuhkan teknologi tinggi untuk mengekstraksinya menjadi bahan jadi seperti vitamin.

"Minyak sawit itu 100 persen dijadikan biodesel itu sangat bisa. Bisa juga menjadi sabun, deterjen dan vitamin. Jadi mesti didorong," ujar anggota dari Fraksi Gerindra ditempat yang sama.


Dalam rangka merealisasikan itu, pemerintah juga harus memastikan pasar yang akan menjadi market, ketika industri telah mampu menghasilkan bahan jadi . Karena itu, kata Hekal, perlu sinergi antara Kementerian Perdagangan, BUMN dan perusahaan terkait pengembangan industri turunan dari bahan kelapa sawit.

Dia melihat, industri sawit Indonesia memang kalah dibanding negara tetangga, Malaysia. Padahal, produksi CPO Indonesia jauh melampaui Malaysia. Untuk harga jual saja, Indonesia lebih rendah dibanding Malaysia. Dengan modal itu, Indonesia berpeluang untuk bisa mengungguli Malaysia. "Koordinasinya pun harus disinkronkan antara BUMN, Kemenperin dan Perdagangan," imbuhnya.

Dia mengakui, perusahaan kelapa sawit Indonesia sudah cukup baik. Hanya saja, yang perlu dioptimalkan adalah penanganan hasil agar bisa bernilai tambah. Dengan begitu, perlu support kebijakan pemerintah untuk betul-betul serius menanganinya agar lebih optimal. Seperti yang dilakukan pemerintahan Malaysia.

Terkait dengan adanya penolakan lantaran industri sawit sering disebut industri yang merusak lingkungan, Hekal tidak melihat itu menjadi masalah utama bagi Indonesia. Menurutnya, sawit telah menjadi komoditas utama di Indonesia, sehingga bila ada kampanye yang menyudutkan produk sawit merupakan hal biasa.

Sebagai minyak yang murah, lagi pula tidak bisa diproduksi oleh negara-negara Eropa. "Itu tantangan bagi pemerintah kita bagaimana melakukan lobi-lobi jangan sampai produk unggulan kita ternodai," pungkas Hekal.

Baca selanjutnya: 1 2 3

Komentar