Prospek Demokrasi Kita

Demokrasi bukanlah suatu tujuan melainkan sarana menuju suatu tujuan yang lebih hakiki dan luhur, yaitu keadilan. Demokrasi prosedural yang sedang dicoba di Indonesia sekarang ini telah menuju pada titik yang kita harapkan bersama

Post Image
Presiden SBY saat menyampaikan sambutan peluncuran buku Selalu Ada Pilihan, di Jakarta Convention Center, Jumat (17/1) malam. (Foto: Cahyo/presidenri.go.id)

Beberapa hari yang lalu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meluncurkan autobiografi yang berjudul SBY Selalu Ada Pilihan. Buku setebal 807 halaman itu merupakan refleksi pemikiran SBY dalam memimpin Indonesia selama 9 tahun. Melalui buku yang ditujukan bagi para pecinta demokrasi dan pemimpin Indonesia mendatang itu, SBY mengajak masyarakat untuk sama-sama belajar tentang banyak peristiwa dalam kehidupan untuk dijadikan pendorong perubahan ke arah yang lebih baik.

Demokrasi bukanlah suatu tujuan melainkan sarana menuju suatu tujuan yang lebih hakiki dan luhur, yaitu keadilan. Demokrasi prosedural yang sedang dicoba di Indonesia sekarang ini telah menuju pada titik yang kita harapkan bersama. Tak ada alasan untuk gagal, mengingat sejak Reformasi 1998, dukungan akan hadirnya demokrasi di Indonesia sangat kuat. Dengan kata lain, rakyat harus memberi dukungan penuh atas demokratisasi yang kita jalankan saat ini.

Hal itu senada dengan harapan Presiden SBY bahwa demokrasi yang belum matang, dalam arti belum terkomsolidasi dan matang di banyak negera, termasuk Indonesia, sering menimbulkan kegaduhan. Ini preseden yang kurang baik dan karenanya harus kita tuntaskan bersama.

Model Komunikasi
Dalam teori komunikasi, untuk memahami pengertian komunikasi sehingga dapat dilaksanakan secara efektif, kita dapat mengutip model komunikasi dari Harold Lasswell dalam The Structure And Function Of Communication In Society, yang menyatakan bahwa cara yang terbaik untuk menerangkan proses komunikasi adalah menjawab pertanyaan: Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect (Siapa Mengatakan Apa Melalui Saluran Apa Kepada Siapa Dengan Efek Apa). Komunikasi berarti proses penyampaian pesan dari seorang komunikator kepada seorang komunikan melalui media komunikasi tertentu untuk menghasilkan efek tertentu.

Berdasarkan teori di atas dapat kita tafsirkan bahwa buku yang berjudul SBY Selalu Ada Pilihan merupakan salah satu media komunikasi yang disampaikan oleh SBY kepada masyarakat tentang prospek masa depan Indonesia.

Dalam beberapa tulisannya SBY mengatakan, "Saya suka membaca dan mempelajari sejarah perkembangan bangsa-bangsa di dunia. Kesimpulan saya satu. Tidak ada satu negara pun yang secara instan bisa melakukan perubahan besar dan pembangunan negaranya, dan kemudian tiba-tiba pula menjadi negara yang kuat dan maju."

Perubahan suatu bangsa ibarat metamorfosis ulat menjadi hewan baru (fase sempurna) yaitu kupu-kupu. Di mana pada prosesnya terjadi cukup panjang dan lama. Begipula untuk melakukan transformasi Indonesia menjadi negara mau, membutuhkan, proses yang lama dan tidak akan terjadi secara instan. Untuk itu membangkitkan optimisme adalah awal dari proses transformasi.

Membangkitkan Optimisme
Kita sebagai masyarakat yang peduli akan masa depan bangsa, perlu dan penting untuk menumbuhkan rasa optimisme, bahwa suatu saat, Indonesia akan menjadi negeri yang penuh dengan kejayaan, rakyatnya sejahtera, negerinya makmur, dan untuk waktu yang panjang, Indonesia akan memegang tongkat estafet kepemimpinan global untuk jangka waktu yang panjang.

Setidaknya kita memiliki beberapa modal dan potensi. Pertama, bangsa ini pernah melahirkan Soekarno, Hatta, HOS Tjokroaminoto, dan Tjipto Mangunkusumo yang memiliki komitmen luar biasa bagi keindonesiaan. Mereka rela hidup menderita demi komitmen kebangsaan dan keindonesiaan. Realitas historis ini adalah aset untuk merajut harapan bahwa pemimpin serupa dapat dilahirkan negeri ini di masa depan.

Kedua, adalah Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah yang dimiliki oleh bangsa kita, dari ujung Sabang sampai Merauke, semuanya adalah hamparan potensi yang bisa menjadi modal utama bagi kesejahteraan Indonesia.

Ketiga, adalah modal kesadaran untuk menumbuhkan sikap pahlawan. Kesadaran itu mulai muncul saat Indonesia sedang mengalami guncangan politik yang cukup massif pada pertengahan 1998. Saat itulah keran demokrasi sangat terbuka lebar maka kesadaran untuk memberikan konsep yang utuh tentang keindonesiaan mulai muncul hingga saat ini yang mengalami proses transisi konsolidasi demokrasi.

Musyfiqul Khoir
Pegiat Forum Studi Media (FSM) UIN Jakarta