Kesenjangan Menjadi Pemicu Konflik Masyarakat

Menurutnya, kekerasan yang terjadi akibat sebuah konflik karena penyelesaiannya mengalami jalan buntu (deadlock). Ditambah lagi kapasitas bernegosiasi di dalam budaya masyarakat Indonesia masih lemah. Membuat masyarakat mengedepankan kekuatan fisik untuk menyelesaikan masalah.

Post Image
Konflik Sampang, Madura (dikonews.com)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Kekerasan antar kelompok sipil dalam masyarakat kerap terjadi. Banyak pemicu yang menyebabkan terjadinya konflik dari persoalan tanah, perbatasan desa, suku maupun agama, maupun hal sepele akibat senggolan antar pemuda saat menonton acara dangdut. Apa sebenarnya yang terjadi pada masyarakat Indonesia?

Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Muridan Widjojo menyatakan salah satu hal yang membuat masyarakat Indonesia terbelit konflik karena belum terbiasa menyelesaikan persoalan dalam skema negosiasi.

"Belum terbangun conflict resolution dalam masyarakat," kata Muridan kepada Gresnews.com pada Rabu (16/10).

Menurutnya, kekerasan yang terjadi akibat sebuah konflik karena penyelesaiannya mengalami jalan buntu (deadlock). Ditambah lagi kapasitas bernegosiasi di dalam budaya masyarakat Indonesia masih lemah. Membuat masyarakat mengedepankan kekuatan fisik untuk menyelesaikan masalah.

Seharusnya ada sebuah lembaga atau organisasi di masyarakat pada level bawah untuk mewadahi persoalan-persoalan sosial yang terjadi."Kalau ada konflik harus ada instansi yang mengawasi dan mencari solusi untuk itu," imbuhnya.

Negara dalam hal ini, seharusnya berperan sebagai pihak netral. Alih-alih menjadi pihak netral, negara justru menjadi bagian dari konflik tersebut. Untuk itu, Muridan menambahkan, perlu ada forum-forum negosiasi yang pada masyarakat mulai di lingkup terkecil sebagai representasi dari segala kepentingan.

Sementara itu, Pengamat Kebijakan Sosial Universitas Indonesia Bambang Shergi Laksmono mengatakan peran kepala suku atau pemimpin kelompok kecil di masyarakat mempunyai peran penting dalam membangun penyelesaian konflik secara damai. Menurutnya, ada begitu banyak penyebab sebuah masalah menjadi konflik di dalam masyarakat.

Penyebabnya kebanyakan bersumber dari persoalan agraria, pertambangan dan sumber-sumber yang berkaitan dengan air. Hal lain yang menjadi penyebab terjadinya konflik adalah perluasan kapital di sebuah wilayah oleh para pemilik perusahaan.

Dimana para pemilik perusahaan itu kemudian mendirikan usahanya, tapi kurang memberdayakan masyarakat lokal.

"Masuknya pendatang, karena masyarakat perkebunan memiliki industri budaya tertentu, sehingga terjadi kesenjangan antara orang pendatang dan orang pribumi," katanya pada Gresnews.com Rabu (16/10).

Lebih lanjut Bambang mengatakan kesenjangan itu kemudian muncul, tapi tak serius diperhatikan oleh pemerintah. "Bukan tidak disadari, tapi tidak diantisipasi (oleh pemerintah)," katanya.

Masyarakat pendatang yang datang ke suatu daerah karena bekerja ataupun transmigrasi secara berkelompok, cenderung berkelompok. Sehingga tidak terjadi pembauran budaya antara pendatang dan pribumi.

Hal inilah yang kemudian memicu terjadinya kesenjangan antar kelompok. Baik kesenjangan ekonomi maupun budaya. Dengan adanya kesenjangan, maka masalah kecil yang terjadi kerap memicu sebuah konflik yang berujung pada kekerasan.

(Mungky Sahid/GN-04)