Tak Sulit Menebak Arah Survei-Survei Elektabilitas

Post Image

GRESNEWS.COM - Apapun hasil surveinya, lihat dulu siapa perisetnya. Di Indonesia, tak sulit menebak arah pendulum lembaga riset. Cermati saja sejarah hasil riset beberapa bulan atau setahun terakhir mereka. Bau klien pasti tercium, seperti riset terbaru yang menobatkan Aburizal Bakrie (ARB) sebagai Capres terfavorit, versi Lembaga Survey Nasional (LSN).

KALAU SUDAH KAYA, TIDAK AKAN KORUPSI? - Mari cermati survei terbaru Lembaga Survey Nasional (LSN) yang menelurkan Ketua Umum Golkar Aburizal bakrie (ARB) sebagai Calon Presiden favorit para pemilih pemula dalam Pemilu 2014. "ARB paling banyak dipilih responden muda, ada 18.6%," ujar Peneliti Utama LSN, Dipa Pradipta. Dipa menduga, keberhasilan ARB menarik perhatian para pemilih muda tidak lepas dari gencarnya ARB bersosialisasi dengan remaja dan anak muda. "Iklan-iklan ARB belakangan ini lebih banyak diarahkan untuk pemilih pemula," papar Dipa.

Aburizal unggul di atas calon-calon Presiden lain seperti Wiranto yang ada di posisi kedua (16,3%), Megawati Soekarno Putri (13,9%), Prabowo Subianto (12,5%), dan Hatta Rajasa (5,3%). Capres lain yang dimasukkan dalam survei hanya mempunyai pemilih lima hingga di bawah lima persen. Mereka adalah Surya Paloh (5,3%), Yusril Ihza Mahendra (5,1%), Sutiyoso (3,6%), dan Marzuki Alie (3,3%).

Alasan lain yang menyebabkan Aburizal Bakrie - akrab disapa Ical - disukai pemilih muda, kata Dipa, karena yang bersangkutan sudah kaya raya "dari sononya", sehingga tidak akan larut dalam kebijakan berbau koruptif. "ARB juga dinilai sebagai profesional dan konglomerat yang sangat menguasai masalah perekonomian nasional."

KHUSUS KETUA PARTAI - Survei dilaksanakan 1-7 April 2013 di 33 provinsi di seluruh Indonesia. Populasi survei meliputi seluruh penduduk Indonesia berusia 16 sampai 20 tahun atau mereka yang baru pertama kali memiliki hak pilih pada Pemilu 2014 mendatang. Sampel 1.230 responden diperoleh melalui teknik pengambilan sampel purposive random sampling. Simpangan kesalahan (margin of error) sebesar 2.8%, dengan tingkat kepercayaan (level of convidence) 95%.

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara tatap muka dengan responden, berpedoman pada questioner. Dilengkapi juga dengan riset kualitatif lewat wawancara mendalam (deep interview) dan analisis media. Peneliti Utama Lembaga Survei Nasional, Gema Nusantara menjelaskan, survei ini dilakukan hanya kepada Capres struktural atau mereka yang berada di posisi Ketua Umum Partai. Tokoh nasional lainnya tidak dimasukkan, karena adanya syarat yang mengharuskan Calon Presiden berasal dari Partai Politik.

SULIT DITERIMA AKAL - Namun dalam wawancara dengan Liputan6, pengamat politik Universitas Indonesia Boni Hargens menyebut hasil survey LSN sulit diterima akal sehat. "Bagaimana mungkin elektabilitas Ical bisa menjadi yang tertinggi, sedangkan masalah Lapindo belum selesai," katanya di Jakarta, Minggu (5/5).

Boni meyakini, sosialisasi gencar ARB tidak serta merta menghapus jejak hitam Ical di Lapindo. Logika publik tidak bisa dikalahkan dengan hasil survei. "Kasus lumpur Lapindo masih becek untuk Ical," tandas Boni. Ia meminta kalangan pemilih pemula bersikap kritis dalam menghadapi berbagai strategi kampanye kandidat Calon Presiden (Capres). "Para pemilih pemula jangan terjebak dalam euforia demokrasi yang baru pertama kali dirasakan," ujar Boni. "Mereka harus kritis dengan gerakan politik."

Secara khusus Boni meminta media massa menjalankan fungsi edukasi kepada publik. Media berperan mengungkapkan rekam jejak masing-masing kandidat Capres ke publik. "Media harus mengangkat dosa masing-masing calon," ujarnya. "Di era demokrasi seperti sekarang, media merupakan satu-satunya sekoci penyelamat masyarakat," imbuh Boni. Ia menambahkan, sulit bagi masyarakat mengkritisi para kandidat capres tanpa informasi obyektif yang disajikan media. "Media harus fair," tegas Boni.

ELEKTABILITAS NAIK PELAN-PELAN - Boni hanya satu dari sekian banyak pengamat yang mengkritisi hasil survei LSN yang dianggap kurang objektif. Sumber Gresnews.com - yang berpengalaman belasan tahun dan dekat dengan lembaga-lembaga riset - menyebut, survei-survei terkait elektabilitas Calpres maupun Partai menyongsong Pemilu 2014, belakangan ini memang mulai mengerucut. Maksudnya, mengerucut ke arah yang diinginkan "klien terselubung" masing-masing.

Modus operandi yang diinginkan oleh "klien terselubung" itu, menurut sumber Gresnews.com adalah trend elektabilitas yang pelan-pelan meningkat (dalam satu tahun terakhir, dipublikasikan lewat beberapa hasil penelitian) hingga memuncak menjelang Hari-H Pemilihan. Dalam hal ini, satu lembaga penelitian kadang tak bisa bekerja sendirian. Jika Lingkaran Survei Indonesia (LSI) misalnya, terus-menerus merilis hasil survei yang hasilnya dianggap "menguntungkan" image Partai Golkar, tentu masyarakat akan langsung mengaitkan LSI dengan partai berlogo beringin itu.

MEMBODOHI RAKYAT - LSI dan LSN adalah dua lembaga riset, oleh sejumlah pengamat disebut-sebut dekat dengan partai beringin. Barangkali karena sejumlah hasil survei yang mereka rilis sebelum ini warnanya cenderung kuning. Survei LSI terkait Calon Presiden 2014, pertengahan Maret lalu misalnya, dianggap membodohi publik oleh anggota Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid, lantaran menyebut Capres partai-partai Islam kalah dari Capres nasionalis, sebelum bertanding. Hidayat juga menyoroti posisi Ical yang hampir menyalip Megawati Soekarnoputri.

Berdasarkan hasil survei nasional LSI, terdapat 10 tokoh nasional yang dijagokan menjadi Capres dan tujuh nama yang disebut-sebut layak dijadikan Cawapres pilihan rakyat. Untuk Capres, tersebut nama Megawati Soekarnoputri yang memperoleh suara sebesar 20,7%, disusul Aburizal Bakrie 20,3%, kemudian Prabowo Subianto 19,2%, dan Wiranto 8,2%. "Selebihnya didominasi tokoh partai Islam, namun suara mereka kecil." Sekanjutnya Hatta Rajasa 6.4%, Ani Yudhoyono 2.4%, Surya Paloh 2,1%, Suryadarma Aki 1,9%, Muhaimin Iskandar 1,6% dan Anis Matta sebesar 1,1%. Adapun cawapres yang diunggulkan berdasarkan survei yaitu, Joko Widodo sebesar 35,2% suara, Jusuf Kalla 21.2%, Hatta Rajasa 17,1%, Mahfud MD 15,1%, Suryadarma Ali 2.9%, Muhaimin Iskandar, 2,2%, dan Anis Matta 1,9%.

Saat itu sudah santer terdengar suara yang meragukan hasil survei LSI tersebut, khususnya yang menempatkan elektabilitas ARB di posisi kedua. "Makanya LSI tak akan mengambil risiko menempatkan lagi ARB di posisi yang lebih tinggi, lewat survei yang mereka lakukan sendiri. Mereka butuh lembaga survei lain," jelas sumber Gresnews.com, sembari menambahkan, "Pantau terus hasil survei LSI dan LSN ke depan, saya rasa makin mendekati Pemilu 2014, makin menguning warnanya."

MASYARAKAT YANG MENILAI - Petinggi LSN, Umar S. Bakry pernah menjadi Ketua Lembaga Penelitian di sebuah universitas terkemuka di Jakarta selama dua periode, sekaligus menjadi peneliti di lembaga tersebut sejak 1989. Umar tercatat juga sebagai peneliti di Pusat Studi Demokrasi (PSD) bentukan Denny J.A (petinggi Lingkaran Survei Indonesia). Begitu yang bisa terbaca di profil Umar di situs resmi LSN.

"Saat ini Umar S. Bakry dapat dikatakan merupakan "orang kedua" dalam dunia survei di Indonesia (tanpa menyebut siapa "orang pertama"). Ia adalah Sekretaris Jenderal Asosiasi Lembaga Survei Seluruh Indonesia (AROPI) hingga 2013, lembaga yang dipimpin oleh Denny J.A," masih menurut profil Umar di situs Lingkaran Survey Nasional.

Gresnews.com mencatat, bersama Denny Januar Ali, Umar S. Bakry pernah mengajukan uji materi terhadap UU Nomor 10/2008 tentang Pemilu Legislatif ke Mahkamah Konstitusi, terkait publikasi perhitungan cepat. Pada 30 Maret 2009, hakim Mahkamah Konstitusi mengabulkan permohonan pemohon untuk dapat mempublikasikan hasil survei dan perhitungan cepat (Quick Count) pada masa tenang dan di Hari-H Pemilu. Sejak itu, Denny dan Umar kian berkibar.

Lembaga survei boleh kejang-kejang sampai ekstasi dengan klien terselubungnya. Namun seperti Boni Hargens bilang, lambat laun masyarakat akan bisa mencermati: mana survei yang obyektif, mana yang asal klien senang. (GN-02)