Panas Dinginnya Hubungan SBY-Ical dan Transaksi Penguasa-Pengusaha

Post Image

GRESNEWS.COM - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bertemu Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie (Ical) di Kantor Presiden, hari ini Rabu (8/5). Secara formal, mereka dijadwalkan bicara hal BBM bersubsidi. Tapi seperti dongeng di dunia fabel, ketika dua harimau bertemu, takkan mereka semata bicara tips menangkap rusa. Pembagian lahan berburu tentu ada. 

GOLKAR DAN ICAL DUKUNG BBM NAIK - Dalam rilis resmi di laman situs Sekretariat Kabinet RI, Ical menyatakan, ia diundang oleh Presiden SBY untuk berdikusi soal ketimpangan subsidi BBM. Posisi subsidi saat ini, masih kata Ical, subsidi BBM tanpa listrik Rp250 triliun, sedangkan termasuk listrik sekitar Rp350 triliun. "Yang menyedihkan dari subsidi itu, 80% dinikmati oleh orang-orang menengah ke atas. Sehingga alokasi pembangunan infrastruktur menjadi kecil," jelas Ical.

Presiden SBY dan Ical - sepanjang siang hingga menjelang sore ini - sepakat untuk meluruskan subsidi BBM yang tidak tepat sasaran itu. "Pada akhirnya, subsidi tidak diberikan pada produk BBM, melainkan kepada pemakainya, khususnya kalangan menengah ke bawah," kata Aburizal. Konsekuensinya, harga BBM akan dinaikkan. Pemerintah, menurut Ical, akan mengantisipasi gejolak yang diakibatkan kenaikan harga BBM lewat pengelolaan fiskal dan pengelolaan makro ekonomi yang tepat.

Untuk jangka pendek, Ical menganjurkan kepada Presiden SBY, sebaiknya penghematan dilakukan dalam waktu singkat 4 - 6 bulan. Bentuk dan pelaksanaan program jangka pendek itu memerlukan persetujuan dari DPR. "Ada dua program jangka pendek yang harus dibicarakan dengan Parlemen, yaitu kalau kita ingin mengandalkan semacam BLT (bantuan langsung Tunai), atau Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM). Program ini hanya untuk mengatasi gejolak sesaat 4 - 6 bulan, dan tambahan program beras miskin (raskin)," imbuh Ical.

Menyangkut kekhawatiran program semacam BLT bernuansa politik, Ical menyatakan, ia yakin Pemerintah yang terdiri atas beberapa Partai tidak berniat mencari keuntungan. Apalagi program itu hanya dilakukan dalam waktu singkat 4 - 6 bulan, tidak sampai menjelang Pemilu 2014. "Partai didirikan bukan hanya untuk pemenangan dalam Pemilu, namun juga harus memihak kepada rakyat. Semua sepakat harga BBM harus naik. Ada penghematan akibat pengurangan subsidi, yakni 20%, nah kita kembalikan dong kepada rakyat," imbuh Ical. Singkat kata, Golkar berada di belakang Presiden SBY jika harga BBM benar-benar dinaikkan.

MOMENTUM BBM - Namun buat yang mereka jeli mengamati, pertemuan SBY dan Ical menyimpan makna lain. Kedua "harimau" ini bertahun-tahun menjalani tensi hubungan naik-turun. Kadang panas, kadang dingin. Gresnews.com meyakini, diskusi soal BBM hanyalah satu diantara sekian banyak topik yang dibahas. Kebetulan, pertemuan mereka pas dengan momentum ketika Pemerintah hendak menaikkan harga BBM. Bahkan bukan tak mungkin, agar tak kental muatan politis, pertemuan mereka sengaja dibungkus dengan isu kenaikan BBM bersubsidi, yang memang tengah populer. 

Pasti akan selalu ada pembicaraan yang tidak dirilis ke media, dan itu kadang jauh lebih penting ketimbang agenda utama yang digembar-gemborkan dan ditulis di halaman utama media massa. Misalnya, banyak yang percaya, pertemuan dengan Ketum Golkar ini di satu sisi merupakan kelanjutan dari "Safari Politik SBY", setelah sebelumnya dia sengaja datang dan bersilaturrahmi dengan Megawati Soekarnoputri, di acara pengukuhan gelar terhadap suami Mega, Taufik Kiemas beberapa waktu lalu di Universitas Trisakti. Dan paling akhir tentu saja pertemuan dengan Prabowo Soebianto, bos Partai Gerindra, yang belakangan namanya kian melambung sebagai Capres.

Topik lain selain soal BBM, yang Gresnews.com yakini dibahas oleh SBY dan Ical adalah agenda keduanya dalam menyongsong Pemilu 2014. Bukan hanya memperbaiki posisi tawar dan saling pengertian (yang sebelumnya pernah tercipta dengan sangat baik) antarkeduanya, tapi juga antara Partai Demokrat dan Partai Golkar. Dan yang tak kalah penting, saling pengertian antara dua kutub yang diwakili keduanya, kutub pengusaha nasional dan kutub penguasa.

Sama seperti pertemuan SBY-Prabowo, tak akan ada bocoran hasil pertemuan berbau politik, rencana koalisi, strategi menghadapi Pemilu 2014, dan sejenisnya. Dalam hal ini, SBY dan Ical "beruntung": punya pernyataan resmi sebagai hasil pertemuan tertutup tersebut, yakni kenaikan harga BBM yang kering aspek politicking-nya. 

PANAS DINGIN DAN NAIK TURUN - Tak bisa dipungkiri, hubungan SBY dan Ical belakangan panas dingin. Pertengahan Februari lalu, Ical pasti sebal ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tiba-tiba saja bicara soal lumpur Lapindo. Presiden SBY menyentil PT. Minarak Lapindo Brantas yang masih juga belum memenuhi kewajiban kepada warga Porong, dalam bentuk pembayaran ganti rugi sebesar 800 miliar. Juru bicara keluarga Bakrie, Lalu Mara Satria Wangsa yang kemudian menjawab sentilan itu, dengan menyatakan bahwa PT. Minarak Lapindo tak akan mengingkari kesepakatan. Keterlambatan Lapindo membayar ganti rugi lebih karena keterbatasan dana yang dimiliki keluarga Bakrie.

Akhir tahun lalu, sekitar Oktober 2012, muncul spekulasi yang bisa mendekatkan SBY-Ical menjadi satu keluarga besar, seperti SBY-Hatta Rajasa yang besanan. Itu ketika politikus senior Partai Golongan Karya, Zainal Bintang menyatakan, Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie berminat menggandeng calon wakil presiden yang berasal dari suku Jawa. "Ini penting karena merupakan conference culture, karena Ical bukan orang Jawa," ujarnya kepada sebuah media online. 

Zainal lantas menyebut beberapa nama yang dicalonkan oleh tim sukses Ical, seperti Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo, Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud M.D, tokoh pendidikan Anis Baswedan, serta politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Pramono Anung dan Puan Maharani. Namun di antara nama-nama tersebut, Zainal memprediksi yang paling berpeluang dicalonkan adalah Pramono Edhie. Ipar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tersebut dinilai pantas karena memiliki karir militer yang kuat. "Dia juga kemungkinan besar bisa jadi Panglima TNI." 

Sebelumnya, sekitar April 2012, Aburizal Bakrie diangkat menjadi Ketua Harian Sekretariat Bersama Koalisi (Setkab Koalisi). Penunjukan itu dipercaya sebagai sebuah transaksi politik antara SBY dan Ical, karena terjadi tak lama setelah masuknya Partai Golkar ke dalam kandang koalisi dan keluarnya "Menteri kesayangan" SBY Sri Mulyani dari Kabinet Indonesia Bersatu. Jika transaksi politik ini benar, artinya, keluarnya Sri Mulyani dan posisi Ketua Harian Setkab menjadi imbalan untuk masuknya Golkar ke barisan koalisi. Pada tahap ini, "saling pengertian" SBY-Ical mencapai puncaknya.

Keduanya saling membeli dan menjual jasa satu sama lain. Ini yang membuat hubungan SBY-Ical menjadi menarik. Susah dipisahkan, tapi tak juga bisa sering berlama-lama dalam kemesraan. Saat hendak naik menjadi Ketua Umum Golkar (2009) sendiri, Ical dikabarkan banyak mendapatkan bantuan dari jaringan SBY, sehingga dia bisa mengalahkan Surya Paloh. Itu makanya Surya Paloh, hingga kini begitu "mendendam" pada SBY. 

Tak heran, ketika isu reshuffle Kabinet merebak pada Februari 2011 - PKS dan Golkar diperkirakan bakal menjadi korban - Golkar tetap yakin Menteri-Menterinya tidak akan diganti hanya karena Fraksi mereka berbeda pendapat soal Hak Angket Pajak di DPR. "Jadi saya kira SBY paham dengan langkah Golkar dalam hak angket. Aburizal dan SBY punya hubungan pribadi bagus," kata Sekjen Partai Golkar saat itu, Idrus Marham.

SEJAUH INI BERJALAN LANCAR - Hebatnya, sejauh ini, hubungan transaksional dan jual beli jasa antara SBY-Ical hampir selalu berjalan lancar. Jadi, siapa masih percaya pertemuan hari ini sebatas membicarakan harga BBM dan kompensasinya? Kalaupun murni bicara soal BBM, apakah komitmen dukungan Ical dan Partai Golkar terhadap rencana Pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi bersifat dukungan gratisan? Partai Golkar memang anggota koalisi, tapi Ical juga pengusaha.

Penguasa dua kutub itu - penguasa dan pengusaha - memang bisa jadi duet maut. Terlihat maupun tak terlihat. (GN-02)