Cerdas memilih, cegah tragedi Nissan Juke berulang
Inti dari keselamatan berkendara terletak di tangan pengguna kendaraan. "Coba lihat mobil BMW S-Class yang ditumpangi Lady Diana. Tak diragukan lagi, mobil itu menerapkan standar keselamatan nomor wahid, tapi tetap saja memakan korban jiwa ketika terjadi tabrakan."
ASPEK keselamatan produk otomotif yang beredar di pasar Indonesia berpulang pada kepedulian serta kecerdasan konsumen. Pasalnya, selama ini belum ada lembaga independen yang khusus melakukan pengujian terhadap aspek keselamatan mobil yang beredar di pasar domestik.
"Bicara keselamatan berkendara bukan hanya dari pemerintah, tapi dari sisi konsumen. Dalam hal ini dituntut kecerdasan dan sikap kritis si konsumen dengan banyak menyerap informasi dari berbagai media dalam era keterbukaan informasi," kata pengamat otomotif Wisnu Guntoro Adi saat berbincang dengan gresnews.com, Senin (7/5).
Inti dari keselamatan berkendara terletak di tangan pengguna kendaraan. "Coba lihat mobil Mercedes-Benz S-Class yang ditumpangi Lady Diana. Tak diragukan lagi, mobil itu menerapkan standar keselamatan nomor wahid, tapi tetap saja memakan korban jiwa ketika terjadi tabrakan."
Menurutnya, di negara maju seperti di Amerika Serikat (AS), ada institusi independen yang dinamai National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA).
"Namun, hasil kajian NHTSA pun hanya sebatas rekomendasi. Misalnya, setelah serangkaian pengujian ada sebuah produk otomotif tidak memenuhi standar keselamatan, imbauannya hanya berupa penarikan (recall)," kata Gareng, sapaan karibnya.
Bagaimana di Indonesia? "Saat ini yang ada hanya skema uji sistem laik jalan yang dilakukan oleh Kementerian Perindustrian. Tapi, itu hanya dari sisi bisnis semata. Sedangkan untuk aspek keselamatan bagi pengguna kendaraan justru belum ada," tutur Gareng.
Gareng menyatakan, riset terkait keselamatan suatu produk otomotif memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Selain itu, tak satu pun konstitusi di dunia yang mutlak mewajibkan pabrikan otomotif untuk mengirimkan produk terbarunya ke lembaga sertifikasi keselamatan transportasi tersebut. "Ini karena adanya tuntutan pasar bebas."
Korban berjatuhan
Diwawancarai di tempat terpisah, pengamat hukum perlindungan konsumen, David Tobing, mengingatkan seharusnya pabrikan mobil sudah mampu memprediksi potensi bahaya kecelakaan.
"Misalnya, pasti sudah ada satu perangkat yang dapat menimbulkan api. Saya yakin semua mobil sudah menyiapkan itu," jelas David, kepada gresnews.com, Senin (7/5).
Gareng menampik anggapan adanya ketidakpedulian produsen otomotif terhadap faktor keselamatan bagi pengendara. Sebab, menurut dia sudah ada semacam konsensus tak tertulis yang dipatuhi oleh para engineer di pabrikan otomotif terkait masalah keselamatan bagi pengguna kendaraan.
Dicontohkan Gareng, dalam kasus terbakarnya mobil Nissan Juke milik model yang juga artis Olivia David pascakecelakaan tunggal di Jl Jenderal Sudirman, baru-baru ini. Para engineering memiliki platform, ada mekanisme semacam firewall pada dinding ruang kabin mobil yang diperkuat supaya tahan dari benturan. Yang jadi masalah, ketika terjadi benturan akibat tabrakan, mesin terdorong masuk ke dalam dan masuk menekan dashboard.
"Padahal dashboard dilengkapi panel-panel listrik sehingga dapat memicu korsleting karena arus dari aki tidak serta merta bisa diputus ketika terjadi tumbukan. Pada saat bersamaan, ada uap dari bensin yang menimbulkan kebakaran," ungkap Gareng.
Kasus berlanjut
Dijelaskan David, mengenai gugatan kasus terkait dugaan adanya cacat produksi atau adanya kegagalan sistem keamanan mobil, masih berlanjut. Sebab, keluarga korban melaporkan kasus itu secara terpisah di luar penyelidikan kecelakaan yang dilakukan oleh Polda Metro Jaya.
"Nissan Juke ini sangat aneh apakah keunikan bentuk ini mengurangi standar keamanan," jelas David.
David mengatakan, terbitnya SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan) hanya untuk perkara kecelakaan lalu lintas saja. Karena insiden itu dipastikan kecelakaan tunggal. Olivia meninggal tertambus api setelah mobilnya menabrak trotoar di ruas jalan protokol itu karena dirinya sendiri, bukan disebabkan oleh pihak lain.
"Apalagi sudah ada statement bahwa yang menumpang dipastikan dalam keadaan sehat. Tidak dalam keadaan pengaruh alkohol," jelas David.
David justru menyayangkan pernyataan polisi yang menilai ada kandungan etanol dalam tubuh Olivia. Padahal, kondisi tubuhnya tidak memungkinkan lagi dilakukan autopsi kandungan etanol.
Standar keselamatan
Terkait keselamatan warganya, Eropa dan AS sangat peduli pada standar keselamatan otomotif seperti diterapkan Lembaga Nasional Keselamatan Jalan Raya dan Lalu Lintas (NHTSA) Amerika Serikat.
Berdasarkan pengujian kendaraan roda empat 2011, NHTSA menempatkan Nissan Versa di peringkat terendah dengan skor dua bintang. NHTSA menyatakan Nissan Versa sebagai mobil yang kurang aman dikendarai.
NHTSA memberi syarat lebih berat bagi produsen mobil untuk mendapat nilai tertinggi lima bintang dalam uji keselamatannya. Ini terkait peningkatan standar pengujian keselamatan setelah adanya uji tabrak pilar samping (side pole crash testing) dan penilaian terhadap penggunaan teknologi pencegah kecelakaan.
NHTSA juga mengeluarkan rekomendasi agar calon konsumen memilih mobil yang telah dilengkapi dengan teknologi pencegah yang sesuai dengan standar lima bintang keselamatan NHTSA. Teknologi tersebut antara lain peringatan tabrakan depan (FCW), peringatan perpindahan lajur (LDW), dan kendali stabilitas elektronik (ESC).
NHTSA merilis hasil pengujian setiap tahun, misalnya pengujian terhadap 33 mobil baru di AS dengan menggunakan standar keselamatan baru hanya menyisakan dua mobil yang mendapatkan lima bintang, yaitu BMW Seri-5 dan Hyundai Sonata. Nilai terendah diperoleh Nissan Versa karena hanya menyediakan ESC sebagai kelengkapan tambahan, bukan standar.
Hasil pengujian tersebut kemudian diumumkan kepada publik berikut tabel berisi peringkat seperti dilansir laman edmunds.com.
