Uang ini seharusnya menyelamatkan korban bencana. Tapi ujungnya malah berubah jadi emas dan kripto di tangan orang dalam.
KPK menangkap 14 orang dalam operasi tangkap tangan di lingkungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Selasa 13 oktober, dan menetapkan lima tersangka—salah satunya Bima Setiawan, Tenaga Ahli Kepala BNPB yang juga adik kandung Kepala BNPB, Letnan Jenderal TNI Suharyanto.
Empat tersangka lain: Gabriel Purwaka Sigit, Kepala Subdirektorat Pengelolaan Bantuan dan Kedaruratan BNPB sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen; Richard Erlangga, sesama Tenaga Ahli; dan dua pihak swasta. Penyidik menyita uang tunai Rp3,3 miliar, emas, hingga aset kripto—penyelewengan dana siap pakai kebencanaan ini disebut berlangsung sejak 2022.
Ketua KPK, Setyo Budiyanto, menegaskan tak peduli siapa pun yang terlibat—"kita tidak melihatnya siapa dia"—sementara Peneliti PUKAT UGM, Zaenur Rohman, menyebut korupsi dana bencana sebagai kejahatan paling keji.
Saat bencana datang, yang dibutuhkan korban cuma bantuan cepat
