Bayangkan seorang pejabat bangga umumkan kemenangan besar di depan publik padahal angka yang ia banggakan diduga salah dari awal.
Dony Oskaria, Chief Operating Officer Danantara Indonesia sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN, berdiri di depan kamera. Ia sebut laba Danantara tembus Rp330 triliun. Ia klaim itu lampaui Temasek Holdings, raksasa investasi Singapura.
Angka pembandingnya? Hanya Rp136 triliun. Publik terpukau. Media memberitakan. Narasi kebanggaan nasional pun menyebar cepat. Tapi sampai hari ini, laporan keuangan konsolidasi Danantara belum pernah dirilis resmi ke publik masih dalam proses audit menyeluruh atas seluruh BUMN di bawahnya.
Laporan resmi Temasek justru sebutkan laba mereka Rp451,66 triliun jauh melampaui target Danantara Rp360 triliun tahun ini, bukan tertinggal.
Kebanggaan bisa runtuh hanya dengan satu kalkulator dan satu laporan keuangan resmi yang dibaca ulang.
