Menurut Anda: apakah kabar Danantara dapat utang dari antek-antek asing — di Hong Kong, Singapura, Boston, London, New York — senilai US$1,5 miliar (Rp25,5 triliun) adalah kabar baik buat Anda sebagai rakyat Indonesia, sehingga Presiden sampai harus meminta CEO Danantara Rosan Roeslani segera mengumumkannya kepada masyarakat?
Kalau buat Rosan dkk., mungkin itu kabar baik — sebab minimal ia dapat muka di depan macan Asia sehingga kemungkinan didepak dari kabinet perlahan menghilang.
Tapi bagi masyarakat umum yang hidupnya makin berat setelah harga BBM dan kebutuhan pokok naik; utang pinjol, kartu kredit, KPR, kredit kendaraan, dan paylater menumpuk; biaya pendidikan dan kesehatan mencekik; serta menganggur tanpa harapan — apa kabar baiknya? Orang tidak peduli ocehan tentang tenor, yield, bookrunner, buying interest, credit rating, spread, oversubscribed, maturity... Tak mau tahu juga siapa itu Citigroup, DBS, HSBC, Mandiri Sekuritas, dan Standard Chartered yang jadi pemimpin penawaran.
Masih masuk akal sebagai kabar baik kalau Danantara menunjukkan komitmen nyata terhadap tata kelola dengan memecat Managing Director Business 2 di Danantara Asset Management, Setyanto Hantoro, yang namanya tercantum dalam audit BPK sebagai pihak yang diduga kuat memiliki benturan kepentingan — karena merangkap jabatan sebagai Direktur Utama Telkomsel dan Komisaris PT AKAB/Gojek saat transaksi senilai Rp6,38 triliun terjadi pada 2020–2021. Menurut BPK, rangkap jabatan itu bisa memunculkan kepentingan ekonomis yang dapat merugikan pihak yang bertransaksi.
Dari sisi nilai berita yang waktunya bersamaan, mungkin masih lebih menarik berita Nvidia yang meraup US$25 miliar (Rp425 triliun) dari penerbitan obligasi mereka. Yang didapat Danantara cuma 5,88% dibandingkan Nvidia. Bahkan Patriot Bond yang dijual ke konglomerat lokal senilai Rp50 triliun dengan kupon 2% masih lebih besar angkanya ketimbang obligasi Danantara global ini yang Rp25,5 triliun — meski dengan kupon jauh lebih tinggi: 5,35% (5Y) dan 5,95% (10Y).
Kalau dibanggakan sebagai bukti minat besar investor asing terhadap Danantara sehingga permintaan membludak (oversubscribed) sampai 3 kali lipat, rasanya tidak sepenuhnya tepat. Dari US$1,45 miliar (5Y), US$175 juta adalah dari joint lead manager interest (JLM) — artinya diserap oleh bookrunner-nya sendiri. Dari 10Y, US$240 juta dari JLM. Tidak semua permintaan itu dari pihak independen. Coverage riilnya paling 1,5–1,7 kali saja. Hal yang standar.
Pembeli terbesar obligasi Danantara adalah fund manager (FM) Amerika Serikat — 52% untuk 10Y. Yang mereka kejar sama seperti FM pada umumnya: yield tinggi, masih masuk hitungan hurdle rate (batas minimum imbal hasil penempatan investasi), CDS (Credit Default Swap) aman, dan ancang-ancang exit secepat kilat kalau ada masalah di kemudian hari.
Lagipula kupon Danantara ini memang lebih tinggi dari obligasi negara valas US$ (ROI/INDON) seri ROI36 dan ROI36N (10Y) serta ROI31NN dan ROI31N3 (5Y) yang ada di kisaran 4–5%. Mungkin dipikir para FM itu: tak ada salahnya bertaruh di Danantara sebagai quasi-sovereign yang kelihatannya terkendali selama presidennya masih yang sekarang — karena segala perangkat, aturan, dan konfigurasi politik sudah diatur sedemikian rupa.
Pendeknya, tak ada prestasi luar biasa dari dapat utang antek-antek asing. Itu praktik bisnis biasa yang lumrah dilakukan entitas bisnis pada umumnya. Lagipula, dari term sheet yang dilihat secara eksklusif oleh Reuters, saya baca hasil penerbitan obligasi Danantara itu akan dipakai untuk keperluan korporasi umum, termasuk investasi dan refinancing utang yang sudah ada.
Jangan mimpi dana itu untuk meringankan kesulitan hidup Anda sekalian.
Yang justru terlihat jelas adalah Danantara — yang umurnya baru 16 bulan — sudah melakukan refinancing utang. Pertanyaan yang seharusnya diajukan: utang siapa dan apa yang mau di-refinancing? Berapa besar? Berapa lama? Katanya Danantara adalah kekuatan masa depan nusantara, tapi kenapa sekarang terlihat seperti mesin rollover utang — berutang untuk membiayai utang, yang akan dipakai untuk berutang lagi? Ini negara kesatuan Republik Indonesia atau negara kesatuan rekapital Indonesia?
"Akan digunakan untuk keperluan investasi" bisa jadi wujud nyatanya adalah membiayai MBG/BGN — yang tiga bekas pimpinannya kini jadi tersangka korupsi — karena MBG dikategorikan sebagai investasi masa depan anak-anak.
Atau justru dipakai sebagian untuk membeli saham GOTO, karena salah satu pimpinan Danantara sendiri pernah mengakui secara pribadi bahwa ia pernah meraup profit besar dari saham GOTO — dan bisa jadi pengalaman itu akan diulanginya lagi di Danantara. Tak peduli audit BPK menyatakan ada potensi kerugian negara lebih dari Rp4 triliun dalam investasi Telkomsel di GoTo.
Jadi, sudahlah — kita jalani lagi hidup sehari-hari seperti biasa. Tak ada kabar baik buat kita dari pemerintah/Danantara. Kabar baik hanya milik pejabat Danantara/BUMN dengan gaji, fasilitas, bonus, tantiem, dst.; milik Citigroup dkk. sebagai bookrunner dengan fee dan komisi transaksinya; milik fund manager asing dengan kupon 5,35%–5,95% dan capital gain-nya; dan tentunya milik macan Asia yang kebetulan masih menjabat Presiden Indonesia — meski mulai marak didemo mahasiswa di mana-mana.
Salam,
AEK
