Indonesia dikenal pekerja keras. Tapi ironisnya… makin sering lembur, hidup belum tentu makin makmur.
Data menunjukkan jutaan pekerja Indonesia bekerja lebih dari 40 bahkan 49 jam per minggu. Lembur bukan lagi pilihan — tapi cara bertahan hidup. Biaya naik, gaji terasa jalan di tempat. Banyak buruh mengambil jam tambahan demi menutup kebutuhan dasar.
Namun riset global justru menemukan fakta mengejutkan: lamanya waktu kerja tidak selalu menghasilkan kesejahteraan. Produktivitas per jam kerja Indonesia hanya sekitar 15–20 dolar AS, jauh di bawah negara maju seperti Jerman yang bisa mencapai lebih dari 65 dolar per jam padahal jam kerja mereka lebih pendek.
Masalahnya bukan sekadar malas atau rajin. Akademisi menilai produktivitas dipengaruhi teknologi, struktur industri, dan dominasi sektor informal yang masih menyerap lebih dari separuh tenaga kerja Indonesia dengan nilai tambah rendah.
Artinya, pekerja Indonesia mungkin bukan kurang bekerja… tapi bekerja di sistem yang membuat kerja keras terasa seperti berlari di treadmill — capek, tapi tidak benar-benar maju.
Karena kadang yang perlu diperbaiki bukan etos kerja rakyatnya… melainkan cara ekonomi bekerja untuk mereka.
