105 Ribu Pikap dan Api di Depan KPK: Proyek Logistik atau Bom Waktu Politik?

Spanduk terbakar di depan KPK. Cat merah berceceran seperti peringatan: ada sesuatu yang sedang disembunyikan. Siang itu, massa Komite Aksi Pemuda Anti Korupsi berdiri panas di bawah matahari Jakarta. Mereka tidak membawa tuntutan kecil.

Mereka membawa satu angka: 105 ribu mobil pikap impor dari India. Nilainya disebut-sebut tembus Rp25 triliun. Nama PT Agrinas Pangan Nusantara ikut terseret. Pertanyaan bermunculan kenapa impor? Siapa yang menentukan? Dan mengapa publik seperti hanya penonton dalam proyek sebesar ini?

Koordinator aksi, Adib Alwi, berkata transparansi nyaris tak terlihat. Akademisi memperingatkan dampaknya bisa menghantam industri otomotif nasional. Pelaku usaha mulai cemas. Jika kendaraan asing masuk masif, siapa yang kehilangan pekerjaan lebih dulu?

Tekanan meningkat. DPR didorong turun tangan. Kamera media menyala. Semua menunggu satu pintu terbuka: KPK. Namun mungkin masalahnya bukan sekadar mobil pikap.

Kadang skandal besar tidak dimulai dari korupsi yang terbukti melainkan dari pertanyaan yang terlalu lama tidak dijawab. Dan hari itu yang terbakar bukan hanya spanduk. Tapi rasa percaya.