Rp25 Kuadriliun untuk Perang, Siapa yang Sebenarnya Membayar Peluru Itu?

Perang belum selesai tapi tagihannya sudah lebih dulu tiba. Dan kali ini, nilainya cukup untuk membeli masa depan satu generasi. Amerika Serikat mengajukan anggaran pertahanan sekitar 1,5 triliun dolar AS. Angka yang sulit dibayangkan setara puluhan kuadriliun rupiah. Alasannya jelas: konflik Iran yang terus memanas.

Setiap hari perang berjalan, hampir 890 juta dolar terbakar. Rudal diluncurkan, kapal digerakkan, langit dijaga jet tempur. Di layar berita terlihat strategi. Di balik layar, angka terus berdarah.

Gedung Putih meminta tambahan dana darurat ratusan miliar dolar lagi. Tapi ada harga lain yang jarang dibicarakan: pemotongan riset, program sosial, dan layanan publik.

Senjata bertambah. Anggaran sipil menyusut. Keamanan naik… kesejahteraan turun. Perang modern ternyata bukan soal siapa yang kalah di medan tempur. Melainkan siapa yang diam-diam membayar paling lama setelah tembakan berhenti.

Dan mungkin, saat peluru terakhir jatuh… musuh terbesar bukan lagi negara lain tapi utang masa depan yang tak bisa dihentikan dengan senjata.