Disiram Air Keras di Jalanan Jakarta: Siapa Takut Suara Kritis?

Jakarta tidak sedang gelap malam itu. Tapi seseorang ingin membuat satu suara… benar-benar padam. Pertanyaannya: siapa yang takut pada kata-kata? Pukul 23.00, Jalan Salemba terlihat biasa. Lampu kuning, suara kendaraan, kota yang tak pernah tidur.

Andrie Yunus, aktivis KontraS, baru pulang dari diskusi soal hukum dan militer di kantor YLBHI setelah merekam podcast bertema “Remiliterisasi dan Judicial Review UU TNI”diskusi tentang peran militer dan arah demokrasi Indonesia. Obrolan serius. Kritik tajam. Hal yang seharusnya normal di negara demokrasi.

Lalu dua motor mendekat. Tidak ada teriakan ancaman. Tidak ada perampasan. Hanya satu gerakan cepat. Cairan disiramkan.

Sekejap tubuhnya terbakar. Andrie jatuh. Teriak kesakitan. Luka bakar mengenai wajah, tangan, dada—sekitar 24 persen tubuhnya. Jalan raya berubah jadi saksi bisu. Pelaku pergi. Kota kembali berjalan… seolah tak terjadi apa-apa.

Tidak ada barang hilang. Artinya ini bukan kejahatan biasa. Mungkin yang diserang bukan tubuh Andrie. Mungkin yang sebenarnya ditargetkan… adalah rasa berani untuk berbicara.

Karena di negeri yang mengaku demokrasi, ternyata kritik masih dianggap ancaman. Dan ironisnya—yang disiram air keras satu orang… tapi yang terasa panas justru kepercayaan publik.