Rencana pengadaan dua meja biliar hampir Rp500 juta di rumah dinas pimpinan DPRD Sumatera Selatan memicu kemarahan publik. Di tengah seruan efisiensi anggaran, muncul pertanyaan: prioritas siapa yang sebenarnya sedang dimainkan?
Bayangkan hampir setengah miliar uang daerah dipakai untuk satu hal sederhana: meja biliar. Dan ini bukan klub olahraga tapi rumah dinas DPRD. Data pengadaan di sistem LKPP menunjukkan rencana pembelian dua meja biliar di rumah dinas pimpinan DPRD Sumatera Selatan.
Nilainya tidak kecil. Totalnya hampir Rp486,9 juta. Satu meja untuk Ketua DPRD dianggarkan sekitar Rp151 juta. Sementara meja untuk Wakil Ketua mencapai Rp335,9 juta. Alasannya terdengar menarik: fasilitas penunjang aktivitas bahkan disebut bisa jadi tempat latihan atlet biliar daerah.
Masalahnya, rencana ini muncul justru saat pemerintah daerah sedang berbicara tentang efisiensi anggaran. Di luar gedung dewan, banyak warga masih memikirkan harga kebutuhan hidup yang terus naik. Di dalam dokumen anggaran… yang muncul justru meja biliar hampir setengah miliar.
Kritik publik pun meledak. Tekanan itu akhirnya membuat rencana ini dibatalkan. Tapi polemiknya meninggalkan satu pertanyaan kecil yang agak mengganggu. Jika hampir setengah miliar bisa muncul begitu saja untuk dua meja biliar. Mungkin masalahnya bukan pada bola yang dimainkan, melainkan pada cara permainan anggaran itu dimulai.
