Setelah kematian Ali Khamenei, Iran menunjuk putranya, Mojtaba Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi baru. Bagi sebagian analis, ini bukan sekadar suksesi kekuasaan ini pesan keras kepada dunia.
Pemimpin Iran yang baru justru dipilih karena dibenci musuhnya. Dan itu bukan kebetulan. Beberapa hari setelah Ayatollah Ali Khamenei tewas di tengah konflik Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.
Iran bergerak cepat. Majelis Pakar yang berisi 88 ulama menunjuk satu nama. Mojtaba Khamenei. Putra sang Ayatollah. Keputusan itu bukan sekadar pergantian kekuasaan. Ini pesan politik.
Selama bertahun-tahun, Ali Khamenei punya prinsip sederhana: pemimpin Iran tidak harus disukai Barat. Justru sebaliknya. Seorang pemimpin harus dibenci oleh musuhnya. Dan banyak analis menilai Mojtaba memenuhi syarat itu.
Pria 56 tahun ini dikenal misterius. Jarang tampil di publik. Tapi disebut punya hubungan kuat dengan Garda Revolusi Iran dan jaringan keamanan negara. Di mata dunia, penunjukan ini terlihat seperti langkah menuju konfrontasi yang lebih keras.
Di banyak negara, pemimpin mencari legitimasi lewat popularitas. Tapi di Teheran legitimasi justru datang dari kebencian lawan. Semakin keras musuh menolakmu semakin kuat kamu dianggap layak memimpin.
