Perang di Timur Tengah terdengar jauh dari Indonesia. Tapi ketika harga minyak melonjak, dampaknya bisa langsung terasa di APBN dan akhirnya di dompet rakyat.
Rudal ditembakkan di Timur Tengah. Tapi yang bisa meledak justru anggaran Indonesia.
Konflik Amerika Serikat dan Israel melawan Iran membuat harga minyak dunia melonjak. Angkanya sempat menyentuh 116 dolar per barel. Padahal asumsi APBN Indonesia hanya 70 dolar. Selisihnya bukan kecil.
Indonesia masih mengimpor sekitar 1 juta barel minyak setiap hari. Dan seperempatnya berasal dari Timur Tengah. Artinya setiap lonjakan harga langsung menghantam anggaran negara.
Menurut data pemerintah, setiap kenaikan 1 dolar harga minyak bisa menambah beban subsidi energi sekitar Rp10 triliun. Saat ini saja subsidi energi sudah disiapkan lebih dari Rp381 triliun.
Kalau harga minyak bertahan di atas 100 dolar… defisit anggaran bisa menembus batas aman. Situasinya makin tegang karena hampir 20 persen minyak dunia melewati Selat Hormuz—jalur yang kini berada di pusat konflik militer.
Jika jalur itu terganggu krisis energi global bisa terjadi Jadi ironinya begini. Negara-negara besar bicara strategi perang. Rudal. Armada. Kekuatan militer. Tapi di Indonesia perangnya bisa jauh lebih sederhana.
Perang melawan satu angka kecil di papan SPBU. Harga bensin.
