Donald Trump Belum Menang Perang, Tapi Sudah Mau Pilih Pemimpin Iran

Perang Amerika melawan Iran masih panas. Rudal masih beterbangan. Tapi mantan Presiden Amerika Donald Trump sudah punya agenda lain: ikut menentukan siapa pengganti pemimpin tertinggi Iran setelah Ali Khamenei.

Dalam wawancara dengan Axios, Trump terang-terangan bilang Amerika harus punya suara dalam menentukan pemimpin baru Iran. Bahkan ia menolak kemungkinan putra Khamenei naik menggantikan ayahnya.

Trump lalu memberi contoh “resep sukses”: Nicolás Maduro di Venezuela. Menurutnya, perubahan rezim seperti di sana bisa jadi model untuk Iran.

Padahal faktanya, sistem Iran jelas. Pemimpin tertinggi dipilih oleh Majelis Ahli, lembaga ulama yang memang berwenang menentukan siapa penerus setelah Khamenei.

Artinya, proses itu murni urusan internal Iran. Bukan pemilu Amerika, bukan juga reality show Washington.

Lucunya, perang saja belum jelas menang atau kalah. Tapi Amerika sudah sibuk mengatur siapa yang boleh jadi pemimpin Iran. Ini seperti belum selesai tanding… tapi sudah ingin jadi wasit, juri, sekaligus panitia pertandingan.