Dunia mendadak menahan napas. Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dikabarkan tewas di usia 86 tahun setelah lebih dari 37 tahun berkuasa sejak 1989. Kabar itu dikonfirmasi media pemerintah Iran, dan dalam hitungan jam, suasana Teheran berubah dari berkabung menjadi bara.
Pasukan elite Islamic Revolutionary Guard Corps atau IRGC langsung bersumpah melakukan “operasi paling ganas dalam sejarah Republik Islam”. Iran menetapkan 40 hari masa berkabung nasional, tapi di balik duka, tersimpan ancaman pembalasan yang diklaim akan mengguncang kawasan.
Beberapa media internasional melaporkan potensi serangan balasan ke pangkalan militer Amerika Serikat dan target yang berafiliasi dengan Israel di kawasan Teluk. Iran sendiri memiliki lebih dari 600 ribu personel militer aktif, dengan ribuan rudal balistik jarak menengah yang selama ini jadi kartu trufnya.
Konflik Iran–Israel sebelumnya sudah memanas lewat saling kirim drone dan rudal. Kini, kematian Khamenei seperti menuang bensin ke api yang belum padam. Harga minyak global langsung bergejolak, pasar saham Asia melemah, dan dunia kembali cemas: apakah ini awal babak baru perang terbuka?
Kalau sumpah balas dendam benar-benar ditepati, Timur Tengah bisa berubah jadi papan catur penuh rudal. Tapi sejarah mengajarkan: dendam jarang melahirkan kemenangan, yang ada hanya lingkaran luka tanpa ujung. Dunia butuh rem darurat, bukan pedal gas menuju perang besar.
