Nama Menteri Keuangan kembali jadi sorotan. Purbaya Yudhi Sadewa melontarkan pernyataan yang bikin publik tercekat: lebih baik utang negara naik… daripada ekonomi Indonesia kembali ke mimpi buruk 1998.
Menurut Purbaya, perlambatan ekonomi memaksa pemerintah mengambil langkah darurat. Pilihannya, kata dia, sederhana tapi menakutkan: biarkan ekonomi ambruk seperti krisis moneter, atau tambah utang untuk menyelamatkan roda ekonomi.
Utang itu disebut “terukur” — sebagai stimulus agar dunia usaha tetap bergerak dan daya beli tak runtuh. Pemerintah bahkan memperlebar defisit mendekati batas 3 persen PDB demi menahan laju penurunan ekonomi.
Total utang pemerintah kini didominasi Surat Berharga Negara, dan masih diklaim dalam batas aman menurut aturan fiskal. Targetnya: ekonomi tumbuh hingga 5,5–6 persen pada 2026, keluar dari stagnasi di kisaran 5 persen.
Logikanya jelas: utang hari ini dianggap sebagai “biaya penyelamatan” agar krisis besar tidak terjadi. Setelah ekonomi stabil, barulah APBN ditata ulang dan beban dikurangi.
Opini: Tapi publik tentu bertanya — menyelamatkan ekonomi dengan utang itu obat… atau hanya menunda sakit yang lebih parah di masa depan?
