Papua selalu punya cerita. Kali ini, bukan dentuman senjata—melainkan dentuman sikap.
Di Timika, Pastor RD Amandus Rahadat memilih berdiri tegak. Ia menolak permintaan testimoni dukungan untuk Satgas Damai Cartenz.
Bukan karena anti-damai. Tapi karena, kata dia, Gereja punya aturan. Pastor bukan juru kampanye, tak bisa berbicara atas nama institusi tanpa mandat resmi.
Dengan tenang namun tegas, Pastor Amandus menegaskan Gereja berdiri di tengah. Bukan di kubu aparat, bukan pula di barisan separatis. Damai, menurutnya, tak lahir dari pendekatan keamanan semata.
Pastor Amandus bersikap akar persoalan Papua adalah ketidakadilan. Dan itu tak bisa diselesaikan dengan testimoni, melainkan dengan keberanian mendengar dan menyelesaikan akar masalahnya, ketidakadilan, secara bermartabat.
