Buku Terlalu Mahal Nyawa Terlalu Murah, Tragedi Siswa SD di NTT, Negara Dimana?

Post Image
Lokasi TKP kasus anak di NTT

Negeri besar ini menangis: seorang siswa SD berusia 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur mengakhiri hidupnya… bukan karena perang, bukan karena bencana… tapi diduga karena tak mampu beli buku dan pena pendidikan!

Korban yang berinisial YBS, siswa kelas IV SD, meminta Rp10 ribu kepada ibunya untuk membeli buku dan pena, tapi keluarga tak mampu memenuhi permintaannya. Ekonomi keluarga sangat terbatas: ibu bekerja sebagai petani dan buruh serabutan, membesarkan lima anak sendirian setelah sang ayah tiada. 

Polisi menemukan sepucuk surat yang ditinggalkan YBS sebelum meninggal, dan kini tragedi ini menjadi alarm keras bagi DPR, masyarakat dan Pemerintah. Politisi dari Komisi X DPR menyebut ini sebagai potret buruknya akses pendidikan & pemenuhan hak dasar anak di Indonesia. Ia bahkan mengatakan ini mencerminkan kegagalan negara menegakkan hak atas pendidikan meskipun anggaran pendidikan terus diklaim meningkat.

Menteri Sosial menyatakan keprihatinan dan memastikan kasus ini jadi perhatian untuk perbaikan data dan jangkauan bantuan sosial, agar keluarga rentan tidak terlewatkan dari program perlindungan. 

Dan ini yang paling memilukan: ketika sebuah pena alat menulis masa depan, menjadi sesuatu yang tak terjangkau hingga memupus nyawa. Jika pendidikan bisa membentuk generasi, bagaimana bisa pendidikan itu sendiri merenggut kehidupan?