Indonesia resmi naik level. Setelah pangan, energi, dan pertahanan, kini negara masuk ke urusan genteng rumah warga.
Presiden Prabowo Subianto menyerukan program “gentengisasi nasional”, mengganti atap seng dengan genteng tanah liat. Alasannya serius: seng bikin rumah panas, berisik saat hujan, dan dianggap tak estetik untuk wajah Indonesia ke depan.
Data Kementerian PUPR mencatat, jutaan rumah masih menggunakan atap seng. Pemerintah menyebut genteng tanah liat lebih ramah lingkungan, sejuk, dan bisa diproduksi massal lewat koperasi desa.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung langsung pasang badan, mendukung “1.000 persen”. Bukan cuma genteng, ia juga siap menata kabel semrawut dan spanduk liar, demi kota yang rapi.
Pemerintah membuka opsi pembiayaan lewat APBN, bahkan memanfaatkan limbah batu bara sebagai bahan baku genteng. Targetnya lingkungan asri, rumah sejuk, dan wajah kota lebih “beradab”.
Tapi pertanyaannya sederhana: ko negara sampai ngurusin genteng warga segala? Saat rumah layak, harga hidup, pendidikan, dan kesehatan masih jadi PR besar, apa benar yang paling genting hari ini, gentengnya dulu?
