ES GABUS DISANGKA SPONS: Saat Polisi dan TNI Mendahului Uji Laboratorium

Ketika api, prasangka, dan seragam bertemu es gabus pun berubah status jadi barang bukti dadakan.

Dalam videoviral di media sosial, aparat kepolisian dan anggota TNI terlihat menghentikan penjual es kue jadul. Tanpa uji laboratorium, langsung menuduh dagangan berbahan spons karena teksturnya kenyal dan tak langsung meleleh saat dibakar.

Es dibakar, diperas, lalu sang pedagang diminta mencicipi sendiri jualannya. Polisi dan TNI yang ada di lokasi pun terekam menyebut kata “spons”, seolah ilmu pangan bisa dipelajari kilat.

Setelah ramai dan diklarifikasi, aparat menyatakan tidak ditemukan bahan spons. Es gabus itu dibuat dari tepung hunkwe, santan, gula, pewarna dan dinyatakan aman. Polisi dan TNI kemudian menyampaikan permintaan maaf.

Fakta lain: bahan spons industri lebih mahal dari pangan tradisional. Jadi tuduhan ini bukan cuma gegabah, tapi juga kalah logika. Dagang rugi, reputasi hancur, hanya karena dugaan tanpa data.

Kasus ini bukan soal es gabus. Ini soal cara aparat menggunakan kewenangan. Karena kalau aparat lebih cepat menuduh daripada memeriksa, yang berbahaya bukan jajanan tapi rasa aman rakyat kecil.