Presiden Prabowo Subianto bikin forum dunia terdiam, bukan karena geopolitik, tapi karena perbandingan tak biasa: Program Makan Bergizi Gratis disandingkan dengan McDonald’s.q
Di panggung internasional, Prabowo menyebut MBG yang baru berjalan sejak 6 Januari 2025 kini sudah mengoperasikan lebih dari 21 ribu dapur, memproduksi 59,8 juta porsi makanan per hari.
Angka itu diklaim akan segera melampaui McDonald’s, yang selama lebih dari 55 tahun memproduksi sekitar 68 juta porsi per hari secara global. Target MBG? 82,9 juta porsi per hari sebelum akhir 2026.
Pemerintah juga menyebut MBG melibatkan lebih dari 61 ribu UMKM, membuka 600 ribu lapangan kerja langsung, dan bisa menembus 1,5 juta tenaga kerja saat program berjalan penuh.
Tapi di balik angka jumbo itu, muncul pertanyaan mendasar: apakah kejar-kejaran jumlah porsi otomatis berarti gizi terpenuhi? Karena makan banyak belum tentu makan benar.
Belum lagi anggarannya. MBG disiap drkan dengan dana ratusan triliun rupiah dari APBN. Skala industri, risiko kebocoran industri, dan tantangan distribusi nasional semua ditaruh dalam satu piring besar bernama kebijakan yang rentan penyelewengan.
Negara memang bukan restoran cepat saji. Tugas pemerintah bukan mengalahkan McDonald’s soal jumlah porsi, tapi memastikan setiap rupiah APBN benar-benar berubah jadi gizi, bukan sekadar angka statistik untuk menghibur Presiden Prabowo.
