Asa Saham Konglomerat: Bursa Hijau, Rakyat Masih Menunggu

Harian Kontan edisi 3 Januari 2026 membuka tahun baru dengan satu pesan jelas: harapan ada… tapi milik konglomerat. Judulnya tegas: Asa dari Saham-Saham Konglomerat.

Artinya, kalau ekonomi mau bangkit kita harus berharap pada orang-orang super kaya. Di barisan teratas, Prajogo Pangestu, dengan kekayaan US$ 46,1 miliar atau setara lebih dari Rp 780 triliun.

Angka yang lebih besar dari APBD banyak provinsi. Disusul Low Tuck Kwong, Sukanto Tanoto, Budi Hartono, Michael Bambang Hartono, lalu Anthoni Salim, Dato Sri Tahir, Haryanto Tjiptodihardjo, hingga Otto Toto Sugiri.

Sembilan nama, satu kesimpulan: uang menumpuk di atas. Total kekayaan mereka? Lebih dari Rp 3.000 triliun. Sementara upah minimum masih jadi bahan debat tahunan.

Kontan menyebut saham-saham mereka berpeluang mencetak rekor baru di 2026. Pertanyaannya sederhana: rekor untuk siapa… dan manfaat untuk siapa? Pasar boleh optimistis, Indeks boleh naik. Tapi kesenjangan tetap diam di tempat.

Di negeri konglomerat, harapan sering naik bersama saham namun jarang turun ke meja makan rakyat.