Banjir Sumatera makin brutal. Sungai berubah jadi naga air, melahap desa dan jembatan. Tapi di tengah kekacauan itu, ada satu sosok yang muncul fotonya di mana-mana: Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator Pangan, membawa sekarung bantuan dengan senyum tipis penuh empati… atau penuh deja vu.
Karena publik langsung ingat: inilah mantan Menteri Kehutanan 2009–2014 yang menurut Greenomics Indonesia “juara nasional” dalam urusan melepas kawasan hutan. Total: 1,64 juta hektare. Itu bukan angka—itu sebuah provinsi kecil yang dilepas begitu saja.
Dan sekarang, ketika banjir menerjang Sumatera Utara, Tapanuli jadi lautan cokelat. Aktivis lingkungan menunjuk ke hulu: Batang Toru bolong-bolong, diserbu tambang emas PT Agincourt Resources, PLTA, PLTMH, geotermal, TPL, PTPN, sawit—singkatnya, semua huruf alfabet punya proyek di sana.
Dampaknya? Sungai jadi jalur evakuasi kayu gelondongan. Potongan batang dari hutan yang dulu pernah berdiri tegak — sebelum izin satu per satu diteken di masa Zulkifli menjabat.
Zulkifli pernah membantah keras, katanya pelepasan hutan bukan berarti deforestasi besar. Tapi ya begitulah: izin itu seperti tanda tangan yang tidak banjir hari ini… tapi menuntut di kemudian hari.
Satirnya: sekarang Zulkifli membawa karung bantuan ke wilayah yang, secara ironi, ikut “dibentuk” oleh kebijakan masa lalunya. Seperti pemadam kebakaran yang datang setelah ikut menyiram bensin.
Jadi kalau hari ini banjir datang tanpa ampun, jangan cuma tanya “kenapa airnya besar?” Tanyakan juga: siapa yang dulu membesarkan ruangnya? Banjir mungkin bencana alam. Tapi skala banjir? Itu adalah arsip kebijakan—dan sebagian arsip itu masih atas nama: Zulkifli Hasan.
